Salam alaikum Habis kultum, waktu buka puasa Sabtu kemarin, pak Iman sempat nanya apa hubungannya akal, hawa nafsu, dan gharizah (harfiahnya: tabiat, perangai). Apakah gharizah itu insting yg juga dimiliki hewan? Saya belon sempet memberi jawaban yg panjang lebar. Tapi intinya, pertanyaan ini, dan juga mungkin pertanyaan2 lainnya yg boleh jadi muncul di benak temen2 IISB, most probably terjadi karena memang kultum itu belum tuntas membahas subject aql dan jahl ini. Bahkan definisi akal pun belum sempet saya lontarkan, bukan? Tapi, mudah2an dg waktu yg sangat pendek itu sudah boleh men-trigger perenungan bagi rekan2. (Mungkin yg diperlukan adalah “kultum”: kuliah tujuhpuluh menit :-)). Nah, having known (from the kultum) that Quran mengkategorikan HANYA mu'minin-muslimin lah yang ya'qilun (berakal), maka implikasinya adalah definisi “berakal” menurut Quran, barangkali, TIDAK SAMA dg definisi yg sudah kita ketahui selama ini. Maka, seorang yg IQ-nya 140-an, misalnya, bukan berarti dia lebih berakal dibanding yg IQ-nya cuman pas2an 100. Di kultum saya contohkan bahwa western society, meskipun saat ini menguasai science dan technology dan tampak sebagai masyarakat yg teratur, mereka yg majority non-muslim and atheis itu sejatinya adalah kaum yg tidak berakal (laa ya'qilun) menurut Al Quran. Mari kita tinjau hal2 berikut. Hewan adalah mahluk yg tidak dikaruniai akal. Yang hewan punya cuman hawa nafsu. However, dunia binatang pun boleh teratur dan lestari. Orang yg punya sedikit pengetahuan lingkungan pun tahu bahwa gejala2 unsustainability yg dirasakan akhir2 ini TIDAK disebabkan oleh hewan2 yg tidak berakal itu. MANUSIA lah penyebab unsustainability. Allah telah menciptakan mekanisme ekosistem sedemikian rupa sehingga mampu menjaga keseimbangan/kelestarian elemen2nya. Keseimbangan ekosistem terganggu, tak lain tak bukan, karena kerakusan satu elemen saja, i.e. manusia. Maka, ini boleh menjadikan pelajaran bahwa dalam suatu sistem yg elemen2nya hanya hawa nafsu, tanpa akal, pun BOLEH TERATUR. Binatang2 predator misalnya, memangsa korban2 mereka secukupnya aja, sesuai dg volume perut mereka aja. Hal ini karena pendeknya pikiran mereka. Dan ini membuat mangsa2 itu tetap terjaga renewability-nya. Nah, inilah yg kita jumpai di negeri2 western dan developed world lainnya yang “nonmuslim” itu. Keteraturan yg terjadi analogus belaka dg keteraturan di dunia binatang, yaitu keteraturan yg timbul bukan karena kemenangan akal terhadap jahal (tentu nggak semua, karena insya Allah masih ada beberapa segmen masyarakat itu yang tetap menjaga dan menggunakan akal mereka, tapi, in general gebyah uyah, bolehlah dibilang begitu). Seseorang dg ideologi laa ya'qilun cenderung memaksimalkan pemuasan hawa nafsunya, dg satu syarat pembatas saja, yaitu tidak menganggu pemuasan hawa nafsu orang2 lainnya. (Does this ring something in your mind? Ingat falsafah dasar 'ilmu' ekonomi?). Orang nggak mencuri atau korupsi, misalnya, bukan karena akalnya mengatakan mencuri/korupsi itu bisa membuatnya terperosok jatuh ke lembah gelap dan jauh dari Allah, tapi karena takut dipenjara, atau karena perutnya udah kenyang, atau karena supaya di-puji2 dan dihormati orang sebagai orang yg baik. Maka, sejauh itu menyangkut interaksi sosial antar masyarakat internal, dunia barat memang menyilaukan sebagian muslimin karena keteraturannya. Budaya antri yg tertib, lalulintas teratur, transparansi perencanaan dan pelaksanaan program2 pemerintah, dll. masih banyak lagi contoh2 keteraturan itu. Tapi jika pemuasan nafsu to the max “tidak mengganggu” orang2 lain (internal), kita lihat betapa kacaunya sebetulnya mereka. Misalnya, perzinaan merajalela secara terang2an, minum2 khamr, perjudian, pesta2 mewah, dan yg sebetulnya mengganggu belahan dunia lainnya (external) adalah: greediness dalam ber-ekonomi yg membuat dunia ini berada dalam trend unsustainability (sayangnya, sebagian besar dari dunia lain itu begitu bodohnya sehingga nggak merasa terzalimi). Jika keseimbangan di dunia hewan adalah sustainable, itu karena kemampuan berpikir hewan begitu pendeknya. Tapi kemampuan berpikir manusia sangat dahsyat. Kita tahu, hewan yg paling cerdas (simpanse dewasa) pun diperkirakan cuman punya kecerdasan setara bayi merah (tolong dikoreksi bagi yg tahu exactly-nya). Nah, dengan karunia Allah yg sangat luar biasa inilah, manusia ditakdirkan punya kebebasan memilih untuk: (A) naik menuju Cahaya (Allah) jika kemampuan berpikirnya DIPIMPIN oleh akalnya, atau (B) turun menuju kegelapan jika pikirannya dikuasai jahal atau nafsunya. So, keteraturan yg ada di developed world itu sebetulnya sangat rawan sekali. Yang sudah nampak meng-global akibat buruknya adalah unsustainability itu tadi, lalu pemaksaan kehendak melalui perang dg dalih 'kebenaran', dan lestarinya poverty di developing world (sila baca Globalization of Poverty dan War on Terorism-nya Chossudovsky). Akal, sesuai dg sabda Imam Ali AS adalah utusan Allah di dalam diri masing2 manusia. Karena itu, penggunaannya harus dimaksimalkan, unless kita mau dikategorikan laa ya'qilun dan membawa konsekuensi mendapatkan azab Allah. Na'udzubillah. Akal dan jahal selalu berperang di dalam diri kita. Bahagialah orang yg intelijensianya dikuasai akalnya, dan kecian deh bagi yg kemampuan berpikirnya dikendalikan oleh sang jahal. Jika jahal berkuasa, suatu mahluk dengan IQ 100 or above tentu akan menjadi jauh lebih buas dan berbahaya dibanding seekor singa yg IQ-nya jongkok itu :-). Semoga menjadi jelas sekarang, apa definisi berakal menurut Islam yang saya pahami. Akhirul kalam, menulis di blog emang mudah, tapi sungguh sulit melaksanakannya, bukan? Wassalam AS
Berikut ini dan mungkin beberapa seri ke depan akan membahas mengenai akal dan betapa pentingnya akal dalam beragama. Lawan dari akal adalah jahal, atau sering pula diistilahkan dengan hawa nafsu. Kita semua tahu, ditinjau dari keberadaan akal dan nafsu, mahluk2 yang Allah karuniai kemampuan berpikir itu ada tiga jenis: malaikat, yang dikaruniai akal saja, tanpa nafsu; hewan, yang hanya dikaruniai nafsu, tanpa akal; dan manusia dan jin, yang Allah karuniai akal maupun nafsu. Materi ini merupakan modifikasi dari topik yang sama yang sempat menjadi diskusi hangat di mailing list IISB, yang sebetulnya diawali dari kultum menjelang buka bersama IISB, Ramadhan 1427 yang lalu. Akal (1): Menurut Al Quran, Hanya Musliminlah yang Berakal Ayat-ayat Al Quran berikut dengan tegas memaksa kita untuk menyimpulkan bahwa hanya kaum Muslimin-Mu’minin lah yang menggunakan akalnya. Kaum yang lain, entah itu kafirin, musyrikin, munafikin, Nasrani, Yahudi, ataupun lainnya, oleh Al Quran dikatakan sebagai kaum yang tidak berakal (laa ya’qilun). Silakan simak ayat-ayat berikut… Al Baqarah: 164 Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi; dan pertukaran malam dan siang; dan (pada) kapal-kapal yang belayar di laut dengan membawa benda-benda yang bermanfaat kepada manusia; demikian juga (pada) air hujan yang Allah turunkan dari langit lalu Allah hidupkan dengannya tumbuh-tumbuhan di bumi sesudah matinya, serta Ia biakkan padanya dari berbagai-bagai jenis binatang; demikian juga (pada) peredaran angin dan awan yang tunduk (kepada kuasa Allah) terapung-apung di antara langit dengan bumi; sesungguhnya ada tanda-tanda (yang membuktikan keesaan Allah, kekuasaanNya, kebijaksanaanNya, dan keluasan rahmatNya) bagi kaum yang menggunakan akal fikiran (liqaumiy ya’qiluun). Al Jatsiyah: 5 Dan (pada) pertukaran malam dan siang silih berganti, dan juga (pada) rezeki yang diturunkan oleh Allah dari langit, lalu Ia hidupkan dengannya tumbuh-tumbuhan di bumi sesudah matinya, serta (pada) peredaran angin, (semuanya itu mengandungi) tanda-tanda (yang membuktikan keesaan Allah, kekuasaanNya, kebijaksanaanNya, serta keluasan rahmatNya) bagi kaum yang mahu menggunakan akal fikiran (liqaumiy ya’qiluun). Al Baqarah: 171 Dan bandingan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir, samalah seperti orang yang berteriak memanggil binatang yang tidak dapat memahami selain dari mendengar suara panggilan sahaja; mereka itu ialah orang-orang yang pekak, bisu dan buta; oleh sebab itu mereka tidak dapat menggunakan akalnya (laa ya’qiluun). Al Maidah: 58 Dan apabila kamu menyeru untuk mengerjakan shalat, mereka menjadikannya (shalat itu) sebagai ejek-ejekan dan permainan. Yang demikian itu ialah kerana mereka suatu kaum yang tidak berakal (laa ya’qiluun). Al Anfaal: 22 Sesungguhnya sejelek-jelek makhluk yang melata di sisi Allah ialah orang-orang yang pekak lagi bisu, yang tidak mau menggunakan akal (alladziina laa ya’qiluun). Yunus: 42 Dan di antara mereka (yang ingkar) itu, ada yang datang mendengar ajaranmu; maka engkau (wahai Muhammad) tidak berkuasa menjadikan orang-orang yang pekak itu mendengar kalau mereka menjadi orang-orang yang tidak mau berakal (laa ya’qiluun). Yunus: 100 Dan tiadalah sebarang kuasa bagi seseorang untuk beriman melainkan dengan izin Allah; dan Allah menimpakan azab (arrijsa) atas orang-orang yang tidak mau berakal (laa ya’qiluun). Al Hajj: 46 – Hati untuk berakal Oleh itu, bukankah ada baiknya mereka mengembara di muka bumi supaya - dengan melihat kesan-kesan yang tersebut - mereka menjadi orang-orang yang ada hati yang dengannya mereka dapat memahami (ya’qiluuna bihaa), atau ada telinga yang dengannya mereka dapat mendengar? (Tetapi kalaulah mereka mengembara pun tidak juga berguna) kerana keadaan yang sebenarnya bukanlah mata kepala yang buta, tetapi yang buta itu ialah mata hati yang ada di dalam dada. Al Furqan: 44 Atau adakah engkau menyangka bahawa kebanyakan mereka mendengar atau memahami (ya’qiluun)? Mereka hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Al Ankabut: 63 Dan sesungguhnya jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka (yang musyrik) itu: "Siapakah yang menurunkan hujan dari langit, lalu Ia hidupkan dengannya tumbuh-tumbuhan di bumi sesudah matinya?" Sudah tentu mereka akan menjawab: "Allah". Ucapkanlah (wahai Muhammad): "Alhamdulillah", bahkan kebanyakan mereka tidak memahami (laa ya’qiluun). Al Hasyr: 14 (Orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik) dengan keadaan bersatu padu sekalipun, tidak berani memerangi kamu melainkan di kampung-kampung yang berbenteng kukuh, atau dari sebalik tembok. (Sebabnya): permusuhan di antara mereka sesama sendiri amatlah keras; engkau menyangka mereka bersatu padu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu, kerana mereka adalah kaum yang tidak berakal (qaumul laa ya’qiluun). Setelah jelas penegasan Al Quran bahwa hanya kaum mu'minin-muslimin sajalah yang menggunakan akalnya, sedangkan kaum lainnya adalah tidak berakal, maka tidak ada kesimpulan lain selain bahwa akal menduduki posisi sangat penting dalam beragama dan berkehidupan. Kita harus menggunakan akal kita jika kita ingin selamat mencapai tujuan ukhrawi kita. Tapi, jika kita tengok keadaan dunia saat ini, dimana science dan teknologi dikuasai oleh negara-negara maju yang kebanyakan adalah dunia Barat yang mayoritas penduduknya non-muslim - dan bahkan banyak penduduknya yang mengklaim atheis -, juga jika kita lihat bahwa kehidupan sosial yang harmonis dan maju justru ditunjukkan oleh western ataupun non-muslim society itu, sementara kehidupan di banyak negara-negara muslim justru miskin, terbelakang dan semrawut, tentu ini menjadi ganjalan buat kita yang mengklaim muslimin ini. Bukankah majunya ilmu dan teknologi serta teraturnya society menunjukkan bahwa mereka adalah kaum yang berakal? Pertanyaan seperti ini penting untuk ditelaah. Insya Allah, bersambung… Wassalam AS
Salaam alaikum Pada dua tulisan yang lalu, telah saya ajukan three plus one proposisi atawa questions untuk golongan yang suka membid'ahkan golongan lainnya itu. Juga udah kita bahas, dengan sedikit mendetailkan Q4 ketahuan bahwa besar sekali kemungkinan mereka telah salah dalam menuduh bid'ah. Sudah terbukti, melalui jalan pemikiran mereka sendiri, bahwa orang2 yang menurut mereka lebih dekat kepada Allah dibanding mereka saja (i.e. sebagian sahabat seperti Muawiyah dan kubunya itu) telah gagal mengenali Imam Ali AS sebagai khalifah arrasyid, apatah lagi mereka yang maqamnya di bawah, tentu lebih MUNGKIN*) lagi untuk tidak mengenali para khulafa yang 7, yang kemungkinan besar udah lewat masanya itu. Maka, boleh jadi, doa dan majelis tahlil itu diperkenalkan oleh seorang khalifah rasyid, alias bukan bidah. Boleh jadi pula doa2 tawassul itu diajarkan oleh seorang khalifah rasyid pula. Dan bukan tidak mungkin majelis ratiban, maulid, haul, dan asyura itu semua sebetulnya adalah ajaran para khulafa arrasyidin. Satu argumen saja sebetulnya udah cukup, jika itu valid secara nash dan aql yang kita sepakati, untuk membuat kita semua mengerti bahwa mengumbar tuduhan bid'ah sama sekali tidak menguntungkan kita semua. Argumen Q4 sengaja saya dahulukan karena konklusinya, jika sahabats perhatikan, sebetulnya sama persis dengan salah satu penekanan Syaikh Nuruddin di youtube itu: "bagilah laluan... tuduhan2 bid'ah itu belum tentu benar...". Demikian pula, detail dan kesimpulan dari Q1-Q3 di bawah ini agaknya nggak akan jauh berbeda secara esensial dari argumen2 Syaikh Nuruddin. Itulah sebabnya, sengaja saya jadikan ini beberapa tulisan, agar jelas apa strategi (i.e. to argue using their own beliefs) dan proposisinya, dan mana bagian pendetailannya. Dengan strategi dan proposisi yang eksplisit, mudah2an boleh membuat semuanya menjadi jelas. Nah, mari kita lanjutkan dengan detail Q1. Hadits utamanya adalah dari ummul mu'minin Aisyah, Rasul SAW berkata, "Jika seseorang melakukan hal baru yang tidak bersesuaian dengan PRINSIP2 AGAMA, maka hal itu harus ditolak". Ini tercatat di Translation of Sahih Bukhari by Muhsin Khan, book 49/hadits no. 861**). Di hadits ini, Nabi SAW mendefinisikan bid'ah bukan dalam pengertian bahasa, tapi dalam pengertian syar'i, yaitu hal baru yang tidak bersesuaian dengan prinsip agama. Definisi ini masih berlaku hingga sekarang, karena tidak ada seorangpun dari Khulafa yang empat itu yang membatalkannya. Pengertian inilah yang seharusnya kita jadikan acuan dalam menilai apakah hal2 baru dalam ibadah itu bid'ah atau bukan. Dan, prinsip2 agama yang dimaksud, sesuai dengan keyakinan golongan yang suka menuduh bid'ah itu, adalah prinsip2 dalam Al Quran dan Sunnah Rasul wa Khulafa urrasyidin. Untuk hadits2 pendukungnya, mari kita mulai dari Jabir bin Abdillah, yg meriwayatkan Rasul SAW bersabda, "Dia yang memperkenalkan sesuatu yang baik dalam Islam, yang kemudian diikuti orang2, dia akan mendapatkan pahala amal dari orang2 itu tanpa mengurangi pendapatan pahala orang2 itu sendiri. Dan sebaliknya bagi dia yang memperkenalkan perbuatan buruk dalam Islam dan kemudian diikuti orang2, maka dia akan menanggung dosa2 amal itu yg dilakukan para pengikutnya itu, tanpa mengurangi beban dosa mereka sendiri." Hadits ini, dg sedikit variasi lainnya termasuk yang dari Abu Hurairah, tercatat di Translation of Sahih Muslim, book 034/6466-70**). Meskipun latar belakang kontekstual hadits ini adalah mengenai seorang sahabat yang bersedekah kemudian diikuti oleh banyak sahabat lainnya, tapi prinsip dasarnya berlaku umum, bahkan sampai sekarang (karena tidak dibatalkan oleh hadits yang datang belakangan ataupun oleh sunnah khulafa urrasyidin, at least as far as I know). Nah, prinsip dasarnya itu tak lain tak bukan adalah "introducing something good in Islam is allowed, even preferable". Maka, jika sesuatu yang disangka bid'ah itu adalah sesuatu yang baik dalam Islam dan bersesuaian dengan prinsip2 Islam, seperti doa tawassul dan ziarah kubur yang tidak menyalahi prinsip2 tauhid, majelis dzikir, shalawat, maulid, dll itu, yang boleh membawa para pengamalnya kepada qurbatan ilallah, maka hal itu tidak bisa disebut bid'ah, as per definition by Rasul SAW di atas. Nah, semua hadits2 lainnya yang diungkapkan Syaikh Nuruddin itu (seperti hadits "Rabbana wa lakal Hamd" dan hadits "baca Qulhu setelah surat setelah Fatihah dalam shalat"), boleh pula dijadikan pendukung prinsip dasar "introducing something good in Islam is allowed, even preferable" ini. Demikian pula, hadits mengenai lafaz Adzan, yang katanya adalah merupakan mimpi dari seorang sahabat yang kemudian disetujui Rasul SAW, pun boleh sebagai pendukung. Jadi, majelis tahlil, ratib dan shalawat, misalnya, bukanlah bid'ah menurut definisi Rasul SAW ini, sebab semuanya itu bersesuaian dengan prinsip2 Islam. Bukankah semua itu hakikatnya adalah dzikir dan doa yang boleh dilakukan kapan aja, baik bersendirian maupun ber-sama2? Nah, sekarang mengenai detail dari Q2. Mari kita simak riwayat2 berikut. Narrated by Israil, Uthman bin 'Abdullah bin Mauhab said, "My people sent me with a bowl of water to Um Salama." Isra'il approximated three fingers ('indicating the small size of the container in which there was some hair of the Prophet. 'Uthman added, "If any person suffered from evil eye or some other disease, he would send a vessel (containing water) to Um Salama. I looked into the container (that held the hair of the Prophet) and saw a few red hairs in it." (Translation Sahih Bukhari, Volume 7, Book 72/784) Nah, praktek tabarruk ini adalah hal baru yang dilakukan oleh Ummu Salamah dan tidak dibenarkan ataupun disalahkan oleh Khalifah arRasyid waktu itu. Beranikah mereka yg mudah menuduh bid'ah itu mengatakan bahwa ummul mu'minin itu telah berbuat bid'ah dhalalah dan terancam ke neraka? Tentu tidak, bukan? Riwayat2 pendukung lainnya adalah seperti berikut ini. Anas said, "Um Sulaim used to spread a leather sheet for the Prophet and he used to take a midday nap on that leather sheet at her home." Anas added, "When the Prophet had slept, she would take some of his sweat and hair and collect it (the sweat) in a bottle and then mix it with Suk (a kind of perfume) while he was still sleeping. "When the death of Anas bin Malik approached, he advised that some of that Suk be mixed with his Hanut (perfume for embalming the dead body), and it was mixed with his Hanut. (Translation Sahih Bukhari, Volume 8, Book 74/298) Hajjaj ibn Hassan said: "We were at Anas's house and he brought up the Prophet's cup from a black pouch. He ordered that it be filled with water and we drank from it and poured some of it on our heads and faces and sent blessings on the Prophet. (Musnad Ahmad) Sementara di Bukhari ditambahkan: `Asim said: "I saw that cup and I drank from it." (Sahih Bukhari, Volume 4, Book 53/341) Narrated Abu Burda: When I came to Medina. I met Abdullah bin Salam. He said, "Will you come to me so that I may serve you with Sawiq (i.e. powdered barley) and dates, and let you enter a (blessed) house that in which the Prophet entered?" (Sahih Bukhari, Volume 5, Book 58/159) Dan masih banyak lagi riwayat2 mengenai tabarruk dan penghormatan kepada sya'air Allah yg dilakukan para sahabat dan salaf saleh. Kita tahu, tabaruk dan menghormati sya'airillah itu dianggap sebagai bid'ah oleh sebagian kaum muslimin. Maka setelah pengetahuan ini, beranikah mereka menuduh orang2 yang mereka cintai, para sahabat dan salaf itu sebagai ahli bid'ah? Tentu tidak, bukan? As for detail dari Q3, rasanya nggak perlu diungkapkan lagi panjang lebar. Saya yakin para asatidz yang mengamati golongan yang suka membid'ahkan orang2 itu lebih tahu. Fenomena umumnya jelas terlihat, bahwa mereka pun telah terpecah belah menjadi banyak kelompok, satu sama lainnya saling membid'ahkan! Ini despite definisi bid'ah yang mereka gunakan sebetulnya sama persis. Saya pernah mendapatkan penjelasan dari gus Nadir mengenai gimana sih peta mereka itu sebenarnya. Anyway, agar lebih mantap, detail pertama dari Q3 adalah doa "radhiallahu 'anhu" yang diucapkan setelah nama sahabat disebut. Mereka tidak menganggap ini sebagai bid'ah, justru ini ibadah yg sering mereka amalkan. Pada jaman Rasul SAW dan khulafa yang empat, nggak ada ibadah yang seperti ini, bukan? Maka, bukankah sebetulnya ini adalah bid'ah, as per definisi mereka sendiri itu? Detail selanjutnya, meskipun ini hanya berlaku untuk satu atau dua kelompok dari mereka, tapi tentunya boleh menjadi pendukung. Kelompok2 ini mengamalkan kumpulan dzikir dan doa yg dinamakan, kalau nggak salah nih, Ma'tsurah (pembuka rahasia?), padahal hal ini nggak ada dilakukan oleh Rasul SAW maupun para khulafa yang empat. Mengapa mereka membid'ahkan majelis tahlil, ratib dan shalawat, sementara mereka menganggap Ma'tsurat sebagai ibadah? Ini jelas tidak adil, padahal sebagai muslim, tentu kita mengklaim diri sebagai pembela dan pembawa keadilan, bukan? :-) Demikian sajian singkat dan sederhana ini, mudah2an membawa manfaat bagi kita semua. Yang benar tentulah dari Allah, sedang selainnya adalah dari nafsi saya. Allahumma shalli 'ala Muhammadin wa aalihith thahirin Wassalam AS Notes: *) Menurut logika yang lurus, ini adalah PASTI, bukannya mungkin lagi, berdasarkan bahasan hadits "barangsiapa yg mati dg tidak mengenal imam zamannya, maka dia seperti mati di jaman jahiliyah". Imam Zaman di sini tak lain adalah Amir atau Khalifah Rasyid yang berjumlah 12 itu, as per hadits2 yg udah dibahas di tulisan yg lalu. No other better explanation than this. As for zaman mereka (para Imam itu) adalah sejak sepeninggal Rasul SAW hingga hari kiamat, seperti secara tegas disebutkan di hadits2 mengenai 12 Amir/Khalifah itu. Tentu saja, seperti halnya orang yang mati di jaman jahiliyah, orang yg mati tanpa mengenal Imam Zamannya pun tidak otomatis mati dalam keadaan kufur atau musyrik, tapi boleh pula mati dalam keadaan beriman dan masuk surga. However, hadits ini mengisyaratkan betapa pentingnya pengenalan kepada Imam Zaman ini, dan bahwa orang2 yang sukses mengenali (ma'rifat) Imam Zamannya itu dikaruniai kedekatan kepada Allah, lebih dekat dibanding orang2 yang gagal mengenali Imamnya. Nah, para penuduh bid'ah ini MENGAKUI bahwa Muawiyah dan bala kurawanya itu punya kedekatan lebih kepada Allah dibanding mereka sendiri, dan TERBUKTI toh Muawiyah dkk telah gagal mengenali Imam Zaman-nya. Maka jika mereka mengklaim bisa mengenali Imam Zaman, berarti maqam mereka jadinya lebih tinggi dibanding Muawiyah dkk dong, yang notabene adalah generasi sahabat! Ini, berdasarkan logika mereka, tentu nggak mungkin. Konsistensi dengan logika sendiri (bahwa semua sahabat adalah adil dan mempunyai maqam lebih tinggi dari generasi2 berikutnya) mengharuskan kesimpulan bahwa mereka PASTI gagal mengenali Imam Zaman alias Khalifah arrasyid di zaman mereka. **) Buat sahabats yg tahu versi Arabnya, silakan dicheck lagi.
Ini bagian kedua. Seri tulisan ini saya ambil dari posting saya di mailing list NU Australia-New Zealand, dengan sedikit modifikasi.
--------------
Salaam alaikum
Gus Arif dan sahabats nahdhiyin semuanya, tentu saja saya nggak mengklaim bahwa yg mau saya ungkapkan ini adalah argumen Imam Ali AS, tapi sekedar mencoba mengikuti salah satu cara beliau berargumen. Ini karena pada jaman beliau dan ber-abad2 setelahnya, bid'ah bukanlah isu utama yang dijadikan alat suatu kelompok untuk memporakporandakan persatuan muslimin. Adalah tepat kata syaikh Nuruddin, hanya pada jaman modern ini saja bid'ah tiba2 jadi justifikasi ampuh dari sebagian muslimin untuk menyerang sebagian saudaranya sendiri. Tepatnya, sejak Muhammad bin Abdul Wahab berkongsi dengan bani Saud dalam mengembangkan wilayah kekuasaannya mulai pertengahan abad 18. Tahta memang godaan yg sangat ampuh. Karena itu, kaum muslimin yang suka banget menuduh bid’ah terhadap saudara2-nya itu sering diasosiasikan dengan Wahabiyah.
Anyway, satu contoh cara berargumen Imam Ali KW dengan menggunakan premis lawannya adalah ketika Muawiyah menolak membai’at Amirul Mu'minin Ali setelah meninggalnya Utsman. Imam Ali tidak menggunakan argumen bahwa beliau adalah Imam Zamannya, i.e. ulil amri yang sah di jaman itu dalam meneruskan kepemimpinan Muhammad SAW (lihat An-Nisa: 59), sebab Muawiyah nggak meyakini akidah ini. Tercatat di Nahjul Balaghah, argumen Amirul Mu'minin adalah mengingatkan Muawiyah bahwa beliau AS dibai’at oleh orang2 yg sama dengan yg membai’at tiga khalifah sebelumnya, yaitu orang2 yg punya keyakinan sama dg Muawiyah, yaitu yang berkeyakinan bahwa kepemimpinan umat ditentukan oleh musyawarah penduduk Hijaz, dan beranggapan bahwa jika umat sudah menetapkan maka itu pertanda ridha Allah (semacam vox populi vox Dei-nya Yunani), dan tiada alasan bagi penduduk luar Hijaz untuk menolaknya. Jadi, jika Muawiyah telah membai’at ketiga khalifah sebelumnya, maka tiada alasan baginya untuk tidak membaiat Amirul Mu'minin AS. Toh, ketika Utsman terpilih (melalui musyawarah terbatas 6 orang dg hak veto pada Abdurrahman bin Auf), atau ketika Umar terpilih (melalui wasiat Abu Bakar), dan juga ketika Abu Bakar terpilih (melalui musyawarah sangat terbatas pula di Saqifah), Muawiyah nggak ikut andil dalam pemilihan2 itu, and toh dia mau membaiat mereka. Jadi, ketika Muawiyah tetap nggak mau membaiat Ali AS dan memilih berperang melawan Imam Ali, terlihat jelas apa motif dia yg sesungguhnya, yakni kekuasaan alias tahta.
Contoh lainnya, ketika Imam Ali mengutus Abdullah bin Abbas RA untuk berunding dg Khawarij, beliau berpesan agar "berargumenlah menggunakan Sunnah Nabi SAW, jangan menggunakan Al Quran sebab ayat2 yg kita pahami seperti ini akan mereka tentang dg pemahaman mereka sendiri, tapi kalau sunnah Nabi SAW mereka nggak bisa berkilah, sebab sebagian mereka adalah sahabat Nabi SAW yang mana sunnah beliau masih melekat dalam ingatan". Tercatat Ibnu Abbas sukses dalam membawa sebagian besar Khawarij untuk bertaubat, sedangkan sebagian kecil lainnya yg masih mbandel kemudian tumpas dalam peperangan Nahrawan.
Oke, kembali ke topik. Perlu kiranya kita mengetahui pemahaman para penuduh bid’ah itu seperti apa:
1. Setiap bidah adalah dhalalah, jadi nggak ada bidah hasanah.
2. Definisi bid'ah adalah: hal2 baru, invention ataupun inovasi berkaitan dg ibadah (dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah) yang nggak ada tuntunannya secara syar'i di Al Quran maupun sunnah Rasul SAW DAN KHULAFA ARRASYIDIN. Menurut Syaikh Utsaimin: “According to Sharee'ah, the definition is 'Worshipping Allah in ways that 'Allah has not prescribed.' If you wish you may say, 'Worshipping 'Allah in ways that are not those of the Prophet (peace and blessings of Allah be upon him) or his rightly guided successors (al-khulafaa' alraashidoon).'” (Majmoo' Fataawa Ibn 'Uthaymeen, vol. 2, p. 291).
Berdasarkan ini, maka mereka men-bid'ah dhalalah-kan majelis2 tahlil, ratib, shalawat, maulud, asyura, dll yang daftarnya makin hari makin panjang aja. Bahkan mengucap shadaqallah al azhim setelah membaca ayat Quran pun dianggap bid'ah. Yang lebih heboh lagi, mereka sekarang udah mulai membidahkan pemikiran, yg notabene adalah non-kasat mata. Jadi, hanya dengan berpikir saja, anda bisa menjadi ahli bidah dan memesan tiket gratis ke neraka, misal berpikir menta'wilkan ayat2 Quran ataupun berpikir kontekstual macam caranya Islam liberal itu :-).
3. Sebagai tambahan penting, para pengusung anti-bid'ah ini mengklaim bahwa mereka mengikuti manhaj Salaf ash-shaleh. Konsekuensinya, mereka meyakini bahwa generasi Salaf (tiga generasi pertama muslimin: sahabat, tabi'in dan tabi'i-tabi'in) adalah yang terbaik, dan TIDAK ADA SEORANGPUN di antara mereka yang ahli bid'ah.
Dari ketiga point di atas, kita nggak bisa mendebat point 1, sebab haditsnya disepakati oleh semua madzhab (termasuk Syiah). Tapi berkaitan dg point 2 dan 3, kita boleh mengajukan pertanyaan2 berikut:
Q1. Apa sebetulnya definisi bid'ah menurut Rasul SAW? Apakah definisi Rasul SAW sama dg definisi para penuduh bid’ah ini (lihat definisi dari Syaikh Utsaimin di atas)? Apakah Rasul SAW mengatakan bahwa memperkenalkan sesuatu yang baru dalam ibadah itu sama sekali terlarang (totally prohibited) sepeninggal beliau dan khulafa arrasyidin, ataukah justru beliau mengindikasikan bolehnya hal ini dilakukan asal memenuhi syarat2 tertentu?
Maka jika ditemukan ada hadits, yang diakui sahihnya oleh para penuduh bid’ah, yang mengatakan bolehnya ber-inovasi dalam ibadah dg syarat2 tertentu, akan goyahlah pondasi pembid'ahan yang mereka lakukan. Hal ini berarti mereka telah melakukan bid'ah dalam mendefinisikan bid'ah :-).
Q2. Jika hal2 baru yang dilakukan oleh para khalifah yang empat dianggap sebagai sunnah khulafa yang boleh diikuti, bagaimana dg hal2 baru yang dilakukan para sahabat (selain dari khalifah yang empat) dan generasi Salaf lainnya?
Maka jika ditemukan ada riwayat, yang diakui sahihnya oleh para penuduh bid’ah, yang menceritakan inovasi2 para sahabat dan Salaf, akan porak-porandalah tiang pancang bangunan pembid'ahan mereka. Jika mereka meyakini tidak ada satupun dari sahabat dan generasi Salaf yang melakukan bid'ah, berarti hal2 baru yang mereka lakukan itu tidaklah termasuk bid'ah. Konsekuensinya, generasi selanjutnya pun boleh melakukan hal2 baru dalam ibadah, asal masih dalam koridor prinsip2 dasar dari hal2 barunya pada sahabat dan salaf itu. Dalam hal ini, berarti para penuduh itu telah melakukan bid'ah pula ketika nggak mau mengakui bahwa sahabat dan generasi salaf pun ada yang berbid'ah ria :-).
Q3. Benarkah para penuduh bid’ah ini telah konsisten berpegang pada pemahaman mereka? Apa nggak ada satu saja ibadah mereka yang sebetulnya adalah bid'ah jika diukur menggunakan kriteria mereka itu?
Maka jika ditemukan ada praktek ibadah yang dilakukan oleh para penuduh bid’ah yang boleh masuk kategori bid'ah versi mereka sendiri, tapi mereka ngotot nggak mau mengakuinya sebagai bid'ah, maka akan hancur luluhlah seluruh bangunan pembid'ahan mereka itu.
Nah, saya yakin sobat-sobit nahdhiyin di milis ini lebih tahu tentang hadits2 berkaitan dg Q1, riwayat2 terkait Q2, dan berita2 terkait Q3 yang kita perlukan untuk meruntuhkan keyakinan mereka dg menggunakan pemahaman mereka sendiri itu. Saya ada sedikit hadits dan riwayat yg, insya Allah, akan kita bahas nanti. Tulisan berikutnya akan fokus pada detail dari Q1 sampai Q3, tapi sebelum itu, perlu diingat bahwa sebetulnya masih bisa dikembangkan Qs lainnya. Misal seperti di bawah ini.
Q4. Jika sunnah khulafa arrasyidin tidak termasuk bid'ah, lalu apakah khulafa arrasyidin itu hanya yang EMPAT itu saja? Jangan2 ada pula khulafa arrasyidin lainnya, yang malah dituduh sebagai ahli bid'ah oleh para penuduh bid’ah itu...?
Lho kok bisa? Ya, mari kita simak. Hadits2, yang diakui pula oleh para penuduh bid’ah itu, justru mengatakan jumlah para khalifah setelah Rasul SAW adalah 12, semuanya dari Quraisy, dan yang terakhir adalah Imam Mahdi AS. Disebutkan di sahih Bukhari, pada bagian awal dan akhir Kitab Al Ahkam, bab Al Umara min Quraisyi, juz IV. Sedangkan di shahih Muslim disebutkan di awal Kitab Al-Imarah, juz II. Masih ada lagi hadits2 serupa di Musnad Ahmad, Abu Dawud dan Turmudzi. Bunyinya kuranglebihnya sbb. “Agama masih tetap akan tegak sampai datangnya hari kiamat dan mereka dipimpin oleh 12 Khalifah, semuanya dari Quraisy.”
Diriwayatkan dari Jabir bin Samrah, dia berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: 'Setelahku akan datang 12 Amir.' Lalu Rasulullah mengatakan sesuatu yang tidak aku dengar, tapi ayahku berkata: 'Semuanya dari Quraisy'.”
Jadi menurut pemahaman ini, setelah Imam Ali (khalifah ke-4) masih ada lagi 7 khulafa arrasyidin almahdiyyin*) lainnya sebelum turunnya Khalifah ke-12 yang terkenal karena diprediksi akan menegakkan keadilan dan membebaskan seluruh dunia dari kezaliman itu. Dan inovasi ketujuh khulafa ini pun jelas bukanlah bid'ah. Maka jangan-jangan, apa yang selama ini mereka tuduhkan sebagai bid'ah2 itu sebetulnya adalah sunnahnya 7 khulafa ini, hanya saja mereka tidak mengenali ketujuhnya sebagai para khulafa urrasyidin almahdiyyin.
Mungkin akan timbul sanggahan dari mereka, “lho, gimana mungkin kami tidak mengenali seorang khalifah kaum muslimin yang rasyid dan mahdi?” Jawabannya, ini suatu hal yg bukan tak mungkin. Ingat, banyak sahabat (i.e. Muawiyah, Amr bin Ash dan kubunya) pun tidak mengenali (baca: mengakui dan membai’at) Imam Ali AS sebagai khalifah yang arrasyid wal mahdi. Bahkan, seorang sahabat yang wara dan zuhud, Abdullah bin Umar pun (correct me if i'm mistaken) tidak ikutan membai’at Imam Ali AS, whatever his reason was. Nah, kalau orang2 selevel sahabat saja bisa tersilap tidak mengenali seorang khalifah seperti itu, apalagi para penuduh bid’ah itu yang mereka sendiri mengklaim bahwa generasi Salaf adalah jauh lebih baik dari mereka, bukan?
Jadi, kemungkinan mereka salah menuduh dan salah men-judge mengenai bid'ah itu ada, bahkan probability-nya sangatlah besar. Hal ini mengingat tanda2 jaman di banyak hadits, sekarang ini adalah jamannya Imam Mahdi AS. Suatu hal yang musykil kiranya kalau kita masih mengharapkan adanya 7 khulafa arrasyidin almahdiyyin lagi sebelum munculnya Imam Mahdi AS. Jadi, yang 7 ini sudah lewat kemarin2, cuma orang2, khususnya para penuduh bid’ah itu nggak mengenalinya saja.
Masih berlanjut, insya Allah.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad
Wassalam
AS
Notes: *) Atau 6 lagi bagi yang mengakui Umar bin Abdul Aziz RA sebagai khalifah rasyid, atau 5 lagi bagi yang mengakui Imam Hasan AS pun adalah khalifah rasyid.
Kali ini si Otong membahas masalah bid’ah. Ini sebuah masalah yang sebenarnya sudah usang, tapi tetap ada di tengah masyarakat muslimin sekelompok orang yang suka menuduh bid’ah kelompok muslimin lainnya. Seri tulisan ini saya ambil dari posting saya di mailing list NU Australia-New Zealand, dengan sedikit modifikasi. Diskusi ini berawal dari posting seorang teman yang mem-fwd ceramahnya Syaikh Nuruddin Al-Banjari di alamat berikut http://www.youtube.com/watch?v=ft_lPw-gRXg
Syaikh Nuruddin mengemukakan counter argument yang sangat gamblang terhadap para penuduh bid’ah itu. However, pada bagian pertama tulisan ini, saya bertindak sebagai devil’s advocate untuk melawan argumen Syaikh Nuruddin, sekaligus memperjelas apa itu definisi bid’ah menurut mereka yang suka mem-bid’ah-dhalalah-kan saudara2 sesama muslim itu. Pada bagian kedua, saya kemukakan strategi untuk meng-counter argument para penuduh bid’ah itu dengan menggunakan apa yang mereka yakini sendiri, dan pada tulisan ketiga saya paparkan supporting details dari counter argument ini.
Semoga bermanfaat, dan mohon maaf bagi yang irritated karena gaya bahasa saya di seri tulisan ini yang sengaja saya buat tajam dan mungkin kasar bagi sebagian orang J.
Salaam alaikum
Mas Seno dan sahabats nahdhiyin semuanya. Argumen yang disampaikan syaikh Nuruddin sebetulnyalah memang sudah sangat gamblang. However, sebagai mantan pendukung kubu yg hobi membid'ahkan orang lain, ijinkan saya menjadi devil's advocate dan akan saya tunjukkan beberapa flaws dari argumen itu, insya Allah. (I was one among them, so I know very well how they think :-)).
Pertama, argumen 2 kategori bid'ah (hasanah dan qabihah/sayyi’ah) akan bermasalah jika dihadapkan kepada hadits yg disepakati oleh semua mazhab Islam ini: "setiap bidah adalah sesat dan setiap yg sesat di neraka". Karena setiap bidah itu dhalalah, maka dianya dihukumi haram (atau bahkan lebih buruk lagi, yg kalau kebanyakan bisa menjadi kufar :-)). Dari sinilah, maka sebagian saudara2 kita itu menolak istilah bid'ah hasanah.
Kedua, setiap bidah yang dilakukan sahabat Rasul SAW, tapi kemudian mendapatkan persetujuan beliau SAW, maka itu namanya bukan lagi bidah, tapi sunnah. Contoh2 yang dikemukakan syaikh Nuruddin, seperti lafaz "rabbana wa lakal hamd" dari Muawiyah, ataupun bacaan surat Qulhu setelah membaca surat sehabis Al Fatihah di rakaat satu dan dua setiap shalat, itu adalah menjadi sunnah Nabi SAW karena persetujuan beliau. Dengan demikian pula, argumen ini nggak bisa dijadikan dasar untuk adanya kategori bidah hasanah.
Ketiga, setiap bidah yang dilakukan khulafa arrasyidin bukan pula termasuk bidah, tapi sunnah khulafa yang boleh diikuti. Memerangi orang2 yang menolak membayar zakat seperti dilakukan Abu Bakar misalnya, atau shalat tarawih berjamaah yang dianjurkan Umar bin Khatthab, atau shalat yang penuh, tidak di jama' qashar, di perjalanan seperti dipraktekkan Utsman, semuanya TIDAK termasuk bidah, tapi sunnah khulafa. Kita tahu, Abu Dawud meriwayatkan "ikutilah sunnahku (Rasul SAW) dan sunnah khulafa urrasyidin ALMAHDIYYIN sepeninggalku". Maka, argumen bahwa hal2 yang baru di jaman khalifah yang empat itu adalah bidah hasanah pun gugur, for the sake of rasionality.
Demikian, maka saya bisa memahami sepenuhnya jika saudara2 kita itu nggak akan mempan dengan penjelasan syaikh Nuruddin. Sebetulnya, ada penjelasan lain yang bisa menjadi counter argument bagi mereka. Imam Ali AS sering berargumen dan menunjukkan kesalahan orang2 dengan menggunakan apa2 yang mereka sendiri pahami, bukan menggunakan apa2 yang kita yakini tapi asing bagi mereka. Kita pun boleh berargumen dg pendekatan ini kepada mereka. Insya Allah, lain waktu :-).
Wassalam
Agung Sugiri
Di bulan Maulud ini, alhamdulillah, benak si Otong nggak bisa lepas dari Baginda Rasul Shalallahu 'Alaihi Wa aalihi wasallam. Ketika diundang peringatan mauludan di kampung sebelah, si Otong sampai tak kuasa menahan air mata waktu mas Krisna, sang penceramah, memutar MP3 asyraqal-an di penghujung ceramahnya.
Suara-suara yang mengatakan bid'ah pada mauludan kali ini sudah nyaris tak terdengar di kampung itu, yang menurut mas Krisna waktu ngobrol2 sehabis ceramah, "alhamdulillah, berkat ceramah2 dan khutbah2nya pak Haji Yunus beberapa waktu lalu, mereka yg tadinya suka menuduh bid'ah itu bisa dikasih pengertian". "Cuma sayangnya", lanjut mas Krisna, masih dengan logat Jawanya yg kental, "beberapa orang masih kuatir jangan2 mauludan, simthud dhurar, dan shalawatan bisa menjurus kepada kultus individu. Gimana tuh menurut mas Otong? Njenengan kan deket ke wak Haji Yunus. Bagi2 dong ilmunya".
"Kalau soal deket sih, Ujang tuh lebih deket lagi", Si Otong nyengir, sambil mengisyaratkan tangannya ke arah Ujang yang lagi sibuk nyomot makanan sana sini. "Sayang memang wak Haji Yunus masih di luar kota, jadi nggak bisa hadir hari ini. Tapi gini lho, Jlitheng kakangku", si Otong menirukan gaya Bima memanggil Sri Kreshna di pewayangan :-), "prinsipnya adalah, bahwa sesuatu itu dikatakan KULTUS individu kalau ianya melebihi dari apa yang seharusnya layak diterima individu itu. Contohnya mas Krisna kedatangan tamu seorang siswa SMU, terus mas Krisna memuji-mujinya seperti layaknya memuji seorang PhD matematika lulusan UQ. Terus lagi, mas Krisna menanyakan persoalan matematika pada level doktoral yang rumit karena yakin akan mendapat jawaban yang tepat darinya. Nah, ini namanya mas Krisna telah mengkultuskan siswa SMU tadi".
"Sebaliknya", lanjut Otong, "jika sesuatu itu kurang dari selayaknya, maka ini dinamakan PENGHINAAN. Contoh, dalam kasus tamu siswa SMU itu tadi, sampeyan mengajaknya ikut ngebantu ngerjain PR matematikanya Sheila, putri sampeyan yang masih SD itu, misalnya, karena menganggap pengetahuan matematika tamu itu cuman segitu. Nah, ini namanya penghinaan, bukan?".
"Iya ya, mas Otong. Sebetulnya sederhana aja nggih prinsipnya", timpal mas Krisna, "jadi kalau yang bukan KULTUS dan bukan PENGHINAAN itu namanya ADIL, nggih to?"
"Betul, mas Krisna. Adil, sesuai sabda Imam Ali AS, adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Nah, sekarang tinggal kita apply-kan saja prinsip ini kepada amalan2 macam simthud dhurar, barzanjian, shalawatan dan lain2 pujian2 kepada Rasul SAW itu. Apakah amalan2 itu termasuk kultus individu atau bukan?"
"Lha, kalau mereka masih ngotot bahwa shalawatan dan pujian2 yang terlalu banyak dan terlalu sering itu masuk kategori kultus individu, gimana tuh?" tanya mas Krisna.
"Ya kita minta aja mereka membuktikannya. Tentu saja, harus didukung nash Al Quran dan Hadits. Sejauh yg saya tahu, dan saya yakin mas Krisna juga tahu, nggak ada tuh ayat Quran dan Hadits yg membatasi kita dalam bershalawat dan memuji Rasul SAW. Artinya, di luar ibadah2 yang udah tertentu tatacaranya seperti shalat misalnya, kita boleh saja bershalawat sebanyak dan sesering kita mampu."
"Iya ya, nggak ada pembatasannya ya."
"Itulah, mas Krisna. Justru Al Quran memerintahkan kaum mu'minin untuk bershalawat ke atas Rasul SAW, sebab Allah dan malaikat-Nya pun bershalawat. Di ayat yang lain, ketika menceritakan Mi'raj-nya Rasul SAW, Al Quran menyatakan kedekatan Rasul SAW kepada Allah ibarat dua busur panah, atau lebih dekat lagi. Ini sebuah ketinggian maqam yang luar biasa, lebih tinggi dari sidratul muntaha, yang nggak ada mahluk lainnya bisa mendekati. Di ayat lainnya lagi, Al Quran mengatakan "innama akramakum 'indallahi atqakum", dan tidak ada seorangpun muslimin yang meragukan bahwa Muhammad SAW adalah yang paling taqwa di antara seluruh manusia, jin dan malaikat. Maka, jelas sekali kesimpulan dari Al Quran adalah: Muhammad SAW itu mahluk PALING MULIA di sisi Allah. Dengan keadaan yang seperti ini, maka hanya ada SATU saja pembatas dalam kita memuji-muji dan bershalawat kepada Muhammad SAW."
"Saya tahu, mas Otong", sela mas Krisna, "pembatasnya adalah: tidak menganggap Muhammad SAW sebagai Tuhan, bukan?"
"Benar sekali, mas Krisna. Itulah satu-satunya pembatas. Makanya, selama kita nggak menganggap Muhammad SAW itu Tuhan, selama kita nggak menganggap Muhammad SAW itu punya independent power, selama kita masih berkeyakinan bahwa Muhammad SAW itu adalah Mumkin al Wujud, dan bukan Sang Wajib al Wujud, maka selama itu pula kita boleh memuji, berterimakasih, dan bershalawat kepada beliau SAW dan ahlulbaitnya AhS sebanyak dan sesering mungkin. Sungguh, kalau Allah tidak menciptakan Muhammad wa aali Muhammad (shallawatullah 'alaihim), semesta dan seisinya, termasuk kita semua ini, tidak akan tercipta. Karena itu, ucapkanlah sesering mungkin, dibarengi kekhusyukan hati: Allahumma shalli 'ala Muhammad wa aali Muhammad."
Ya abal Qaasim, ya rasulallah, ya imam arrahmah, ya syafii'al ummah, ya kaasyifal ghummah
Ya hujjatallahi 'ala khalqih, ya sayyidana wa maulana
inna tawajjahna wastasyfa'na wa tawassalna bika ilallah
wa qaddamnaaka baina yaday haajaatina fiddunya wal aakhirah
ya wajiihan 'indallah, isyfa'lana 'indallah
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa aali Muhammad
Wassalam
AS
Salaam 'alaikum
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad
"Yaa ayyuhalladzina aamanu athii'ullaha wa athii'uur rasuula wa uulil amri minkum..." (An-Nisa: 59).
Ada dua pendapat besar di kalangan kaum muslimin sejak ditinggal Nabi SAW hingga sekarang – dan agaknya akan berlanjut terus hingga datangnya Imam Mahdi ATFS – mengenai ulil amri yang kita wajib taati itu. Pendapat pertama mengatakan ulil amri adalah para pemimpin bagi umat Islam yang penetapannya dilakukan oleh manusia, yaitu melalui bai’at dari umat Islam. Bahkan ada di antara penganut paham pertama ini yang berpendapat bahwa para pemimpin negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim itu sebagai ulil amri. Hal ini, agaknya karena pada saat ini nggak ada seorangpun yang disepakati oleh seluruh muslimin untuk menjadi pemimpin tunggal umat. Jadi, presiden SBY misalnya, adalah ulil amri bagi muslimin Indonesia yang meyakini paham ini.
Di lain pihak, pendapat kedua meyakini bahwa ulil amri itu adalah para pemimpin tertinggi umat yang ditetapkan dan diangkat langsung oleh Allah. Setiap ulil amri menjadi pemimpin umat pada jamannya masing-masing, sejak Rasul SAW wafat hingga dunia ini berakhir nanti. Ada ulil amri yang diakui sebagian besar masyarakat sehingga menjadikan mereka sekaligus sebagai pemimpin politik umat, tapi banyak pula yang ditolak oleh sebagian besar umat yang ternyata lebih memilih orang2 yang bukan ulil amri sebagai pemimpin politiknya. Singkatnya, Allah selalu menetapkan dan memberikan pemimpin2 bagi manusia, tapi kebebasan manusia membuat mereka boleh memilih untuk mengikuti dan mentaati pemimpin2 yang ditetapkan Allah itu atau menolak mereka. Tentu saja, bukti2 atas kepemimpinan mereka yang ditetapkan Allah itu pun telah Allah berikan secara jelas kepada manusia. Apapun pilihan manusia, semuanya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah di hari pengadilan nanti.
Kelemahan pendapat pertama sebetulnya sudah jelas terlihat dari perenungan singkat si Otong di episode yang lalu. Nah, mari kita lihat masalah ini lebih lanjut agar menjadi lebih jelas.
Once upon a time, a Nasrani Arab scholar after hearing this verse (An-Nisa: 59), gave an interesting comment. Kuranglebihnya begini (in my own words): "The order to obey Rasul does make sense because he, according to you (muslims), was infallible (ma’shum) as the channel of God's commands. God never corrupts, so did Rasul, and God’s message was delivered flawlessly by Rasul. But it's not understandable why you should obey those who may err (Ulil Amri dipahami sebagai muslim governments/pemimpin2 politik umat Islam). Doesn't it mean that you should obey them although if they order you to do wrong?"
Then, when the scholar was told that muslims only obey ulil amri when their commands are in accordance to Quran and Sunnah (means ketaatan bersyarat kepada Ulil Amri), the scholar replied: "So, in this case, you (people) are more knowledgable about Quran and Sunnah than your leaders (because you know when they corrupt while they themselves don't), and thus it would be much better if you be the leaders, NOT them. So, are you (people) the ulil amri meant by the verse, or them (governments)?"
Kritik orang luar ini, IMHO, layak diperhatikan dengan seksama. Kebingungan itu, IMHO lagi, antara lain adalah karena belum apa-apa umumnya kita udah me-nebak2 "o.. o.. siapa dia" yg dimaksud dg Ulil Amri itu? Coba kalau kita kesampingkan dulu mengenai tebak-tebakan ini. Let it just be ‘ulil amri’ first, dan kita coba pahami basic principle yang mau disampaikan oleh ayat ini, insya Allah, mengenai siapakah mereka ulil amri itu akan dapat kita ketahui jawabannya later on melalui bantuan akal sehat dan ayat2 Al Quran lainnya.
Prinsip yg mau disampaikan ayat ini secara TEPAT telah diungkapkan oleh orang Arab Nasrani itu: channels of God's commands.
Coba kita tengok pertanyaan2 berikut.
The first question is: Sebetulnya SIAPA SAJA sih yang harus kita taati? Bagi penganut tauhid, jelas: HANYA ALLAH, The One and Only yg harus kita taati.
Then, the second question is: HOW to taat kepada only Allah?
Kenyataan yang, mau nggak mau, diakui oleh semua God conscience people adalah: TIDAK SEMUA ORANG dikomunikasiin langsung (melalui wahyu dan/atau inspirasi) oleh Allah. So, jawaban untuk ini juga jelas: kita taat kepada Allah melalui ketaatan kita kepada channel/s dari commands-Nya, yang untuk umat akhir jaman adalah Rasul Muhammad SAW.
Nah, sampai di sini, "athiullah wa athiur rasul" sudah kita pahami. Tapi, pertanyaan ketiga adalah, kenapa ada lanjutannya: ...wa ulil amri minkum...? Kenapa tidak cukup athii'ullaha wa athii'ur rasuul?
Jika kita nggak nebak2 "o o siapa mereka sang ulil amri" pada tahap ini, sebetulnya memahaminya mudah, bi idznillah.
Coba kita tengok ada HUBUNGAN apakah antara jawaban pertanyaan pertama (yaitu: Allah) dan kedua (yaitu: Rasul SAW) di atas? Apakah hubungan ini bersifat horisontal atau vertikal? Pada kalimat: "athiullah WA athiur rasul", apakah WA di sini menunjukkan hubungan horisontal atau vertikal?
In other words: Apakah kita mentaati Allah DAN Rasul (hubungan horisontal), atau kita mentaati Allah MELALUI ketaatan kita kepada Rasul-Nya (hubungan vertikal)? Saya yakin semua muslimin sudah tahu jawabannya: hubungan vertikal. Jika kita menjawab hubungan horisontal, berarti terjebak kepada menyekutukan Allah dg Rasul-Nya, sebab menganggap Allah dan Rasul SAW dalam kedudukan yang comparable dengan independent authority masing2. Naudzubillah. Padahal, authority hanya kepunyaan Allah. Laa haula wa laa quwwata illa billah. (Sila simak lagi artikel Ana al-Haq (1): Tauhid Al-Wujud di ayat Kursi di blog ini).
Begitulah, karena hakikatnya ketaatan itu HANYA kepada ALLAH saja, yaitu "athiullah", maka sambungan ayat itu "...wa athiur Rasul wa Ulil Amri minkum..." adalah menunjukkan CARA bagi kita untuk TAAT kepada ALLAH SEMATA, yaitu MELALUI KETAATAN kepada Rasul SAW dan Ulil Amri alaihim assalam.*)
Jadi, yg HORISONTAL itu adalah hubungan Rasul dan Ulil Amri, BUKAN Allah dan Rasul! Nggak adanya kata TAATILAH lagi di depan kata Ulil Amri mengindikasikan bahwa Rasul wa Ulil Amri adalah pada posisi yang HORISONTAL, i.e. mereka semua adalah manusia2, sama2 CIPTAAN Allah, yg telah Allah tetapkan sebagai saluran bagi petunjuk2-Nya.
Kebanyakan muslimin memang mengartikannya sebagai ketaatan bersyarat terhadap Ulil Amri. Tapi jika demikian, maka akan timbul kerancuan seperti yang dikritik secara valid oleh seorang sarjana Nasrani di atas. Bagaimana mungkin ulil amri, yang ketaatan kepada mereka Allah sejajarkan dengan ketaatan kepada Rasul SAW itu, perlu kita tegur karena ada kemungkinan salah memahami Quran dan Sunnah? Bukankah ini sama saja dengan meyakini kemungkinan bahwa Rasul SAW boleh salah pula dalam memahami Al Quran? Suatu hil yang mustahal. Kalau seorang Nasrani saja bisa berpikir sejernih itu, then why can't we, who claim to have a religion better than his?
Hubungan horisontal Rasul-Ulil Amri ini diperlukan, KECUALI jika Rasul SAW itu hidup selamanya sampai hari kiamat sehingga tidak diperlukan adanya pengganti dan penerus misi kepemimpinan/Imamah-nya (sedangkan Nubuwah berakhir dengan wafatnya). Kenyataannya kan nggak. Rasul SAW meninggal pada umur 63 tahun.
Maka pertanyaan keempat berikut kiranya boleh membantu: How to taat kepada Rasul setelah meninggalnya beliau SAW?
Many muslims may answer: melalui ketaatan kepada Quran dan Sunnah. Well, ini akan kembali lagi ke kemuskilan di atas. I can only say this: seribu sekian ratus tahun sudah seluruh kelompok kaum muslimin ini mengklaim sebagai mentaati Quran dan Sunnah, BUT terbukti muslimin masih tercerai-berai dan jadi bulan2an mudah bagi musuh2 Islam. BECAUSE Quran (and Sunnah) IS NOT ONE in meaning. It is NOT Quran and Sunnah, PERIOD. BUT, in fact, it is Quran and Sunnah according to who? Dalam bahasa Imam Ali AS dalam menanggapi ajakan tahkim bil Quran dari pihak Muawiyah yg saat itu sebenarnya udah terdesak hampir kalah: "itu (mushaf Quran) adalah Quran yang diam, dan inilah (sambil menunjuk dirinya) Quran yang bicara (Quranun nathiq)". So, The Book of Quran and The Books of Ahadith CANNOT be "Allah and Rasul" refered by the lanjutan dari ayat An-Nisa: 59 itu ("...maka jika kalian berselisih mengenai sesuatu, maka kembalikanlah itu kepada Allah dan Rasul, jika benar2 kalian beriman kepada Allah dan hari akhir..."**)).
"...kembalikanlah kepada Allah dan Rasul" yg dimaksud di penggalan ayat itu adalah, tentu saja, bertanya kepada or meminta keputusan Rasul SAW ketika beliau masih hidup (nggak mungkin kan jika para sahabat berselisih, kemudian mereka bertanya langsung kepada Allah untuk me-resolve-nya?). Nah, ketika Rasul SAW sudah meninggalkan kita, maka Ulil Amri-lah sumber rujukan itu. Maka, jika pertanyaan kedua di atas (how to taat kepada Allah) dijawab dg "melalui ketaatan kepada Rasul-Nya", maka jawaban pertanyaan keempat ini (how to taat kepada Rasul setelah meninggalnya) adalah: "melalui ketaatan kepada Ulil Amri".
Dengan pemahaman seperti ini, jelaslah sudah bahwa nggak mungkin Ulil Amri itu ditetapkan oleh manusia, baik itu bai’at melalui musyawarah atau demokrasi, ataupun keturunan/kerajaan, ataupun pemaksaan/kudeta. Karena Ulil Amri adalah channels of God’s commands dan pemimpin yang umat wajib taat “sami’na wa atha’na”, maka penetapan dan pengangkatan mereka adalah sepenuhnya Hak Allah, bukan hak manusia.
Nah, setelah kita pahami ini, baru kita beranjak ke tahap selanjutnya, yaitu mencari jawaban "o o siapa ulil amri" itu. Bagi para scholars yg mengerti kaidah research, maka nggak ada salahnya kita terapkan itu dalam menjawab the main Question: Who are the ulil amri?
Apakah kita langsung menelusuri belantara hadits2? Boleh2 aja, BUT I don't think it's a proper method dalam pandangan science. IMHO, kita harus menetapkan proposisi dulu mengenai kriteria2 ulil amri. Proposisi ini didapat melalui logika rasional dan studi Al Quran. Baru nantinya, proposisi ini kita test-kan kepada data2 empirik yg kita dapatkan dari belantara hadits2 dan dokumen2 sejarah terkait lainnya mengenai orang2 yang dinominasikan sebagai para ulil amri itu.
We all know, hadits may err, but NOT the Quran sebab Allah menjamin kemurniannya. Tidak sukar untuk mem-proposisi-kan kriteria2 ulil amri. Sebagai the channels of God's commands and the continuation of Rasul's role as The Imam or The Single Authority of muslim ummah, maka kriteria ulil amri, insya Allah, bisa kita uraikan.***)
Semoga menjadi jelas perbedaan ulil amri dengan pemimpin2 politik kita di Indonesia saat ini: Kita wajib taat TANPA SYARAT (sami'na wa atha'na) kepada Ulil Amri, tapi kita taat kepada pemimpin politik hanya dalam rangka menepati perjanjian bernegara Indonesia ini, yaitu HANYA jika perintah2 pemimpin politik itu tidak bertentangan dengan petunjuk2 Ulil Amri. Dan jelas juga bahwa banyak pemimpin2 politik kita saat ini yang NGGAK KENAL sama sekali dg Ulil Amri kita, sehingga bagaimana mungkin mereka bisa mengeluarkan keputusan2 yang sejalan dengan Quran dan Sunnah yg sebenarnya -bukan yang menurut interpretasi mereka sendiri-, alias petunjuk2 dari Ulil Amri yg tidak mereka kenal itu?!
Siapapun yg wafat dalam keadaan nggak mengenal Imam Zamannya, maka dia wafat seperti matinya kaum jahiliyah****), meskipun dia telah ‘mengenal’ Allah, Rasul SAW, dan KitabNya. Naudzubillah. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya masalah ma’rifat ulil amri ini. Ma'rifatullah, ma'rifaturrasul dan ma'rifatul quran hanya bisa sempurna melalui ma'rifat al Imam al Zaman. Makanya, di dalam kubur, salah satu pertanyaan yg kita hadapi adalah ‘man Imamuk?’.
Akhirul kalam, bagi siapa saja yang mau merepotkan dirinya dengan melakukan research dg the main Q ‘who are the ulil amri?’, semoga Allah menjernihkan pikirnya, membukakan pintu hatinya dan memudahkannya menjawab pertanyaan2 qubur dg benar. Ilahi aamiin. Kita semua tahu, Islam adalah ‘intention and effort oriented’, hanya mewajibkan dan menilai niat dan efforts kita. So, selama kita berusaha maksimal dengan niat tulus ikhlas qurbatan ilallah, kalau toh tidak berhasil atau salah dalam menjawab the main Q, insya Allah, masih berada dalam pengampunan-Nya yang sangat luas itu.
Wallahu a'lam
Allahumma shalli ala Muhammadin wa aalihi aththayibin aththahirin,
uulil amrilladzina faradlta ‘alaina thaa'atahum
Wassalam
Agung Sugiri
Notes:
*) Saya jadi ingat slogan Khawarij yg terkenal: laa hukma illaAllah, tidak ada hukum kecuali Allah. Oleh Imam Ali AS dikatakan bahwa ini adalah ucapan yg benar tapi untuk tujuan yg bathil. Hal ini karena Khawarij menafikan CARA untuk terimplementasinya hukum Allah itu. Cara yg benar adalah hukum Allah diterapkan melalui Rasul SAW dan para ulil amri sepeninggal beliau SAW. Cara ini ditolak oleh Khawarij yg beranggapan bahwa Hukum Allah bisa diterapkan secara "langsung". Padahal maksud dari istilah "langsung" itu sebenarnya adalah melalui tangan2 mereka. Jadi sebenarnya yg mau diterapkan Khawarij adalah Hukum Hawa Nafsu mereka (yaitu Quran menurut interpretasi mereka, unauthorised interpreters), bukan Hukum Allah (Quran menurut penjelasan Rasul SAW dan para ulil amri yang di-authorised oleh Allah).
**) "...fain TANAAZA'TUM fi syai-in faRUDDUUHU ilallahi warrasuuli in kuntum TU-MINUUNA billahi wal yaumil akhir...". Tanaaza'tum berarti KALIAN (telah) berselisih, yang mana KALIAN yang dimaksud adalah umat, sedangkan Ulil Amri tidak termasuk di dalam sebutan KALIAN itu, sebab ulil amri adalah pihak pemutus perkara perselisihan itu. Sederhana saja, kalau perselisihan itu melibatkan rakyat versus ulil amri, lalu keputusan dikembalikan kepada Quran dan Sunnah, maka pemahaman Quran-Sunnah versi siapa yang akan memutuskan perkara? Jika versi rakyat, maka berarti rakyatlah yang jadi ulil amri-nya. Nggak lucu kan? Maka, pemahaman Quran-Sunnah versi ulil amri-lah yang harus jadi acuan.
***) Salah seorang ulama ahlussunnah, Fakhruddin ar Razi, telah memproposisikan kriteria ulil amri dengan sangat baik. Sila tengok karya tafsir beliau Mafatih al Ghayb (Kunci2 Kegaiban). Sayangnya, ketika men-test-kan proposisi itu untuk menjawab ‘who the ulil amri are’, ada kejanggalan yang telah beliau lakukan.
****) Hadits yang terkenal, meskipun sebagian muslimin menafikannya. Secara matan (content), IMHO, nggak ada masalah dg hadits ini karena ada kesesuaian dg Al Quran (ayat Ulil Amri ini dan ayat2 lain yg paralel dan berhubungan dengannya). Para Ulil Amri itulah para Imam di Zaman masing2 sepeninggal Rasul SAW, sehingga tanpa mengenal (ma'rifat) Sang Imam di zamannya, bagaimana mungkin seorang mukmin (ingat, ayat ini diawali dg ‘yaa ayyuhalladzina aamanu’) bisa melaksanakan perintah Allah untuk taat kepada Ulil Amri itu?
Salaam alaikum
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad
Sekitar hampir dua tahun yang lalu, si Otong menjalankan tugas luar dari kantornya di suatu kota di luar Jawa selama tiga bulan. Karena dinas ini cukup lama, maka dia mengajak pula istrinya. Pada suatu kesempatan ngobrol santai di tempat kostnya di kota itu, istrinya bertanya, "Eh, pak Gubernur propinsi ini katanya mau diturunkan?". Otong menjawab, "Iya, dia lagi kena penyidikan KPK, kalo terbukti bersalah ya harus lengser".
"Terus kalo itu kejadian beneran, yang gantiin siapa?"
"Ya Wakil Gubernur dong, sesuai UU".
"Wah, gawat dong, wagubnya kan non-muslim".
"Gawat kenapa?"
"Penduduk propinsi ini kan mayoritas muslimin, padahal menurut Al Quran muslimin nggak boleh dipimpin oleh non-muslim", kata istrinya Otong.
Yang terlintas di benak Otong pertama kali adalah: bener juga ya (lihat misalnya Al Maaidah: 57, yang melarang kita menjadikan ahlulkitab dan orang2 kafir sebagai wali/penolong/pemimpin). Tapi, setelah kasus ini dia telaah lebih lanjut, dia menemukan sesuatu yg lain.
Begini. Yang dimaksud dengan pemimpin di Al Quran itu sehingga kita dilarang berpemimpinkan non-muslim, apakah para pemimpin politik itu (Gubernur, Walikota, dll.)? Telaahan Otong mengatakan “sepertinya bukan deh”. Kita kan tahu bahwa tujuan hidup ini adalah beribadah di dunia agar selamat di akhirat nanti. Untuk ini, Allah telah memberikan bagi kita para Khalifah-Nya, pemimpin2/wali2, baik mereka adalah Nabi/Rasul AhS ataupun bukan, untuk diikuti dan ditaati sebagai perwujudan ketaatan kita kepada Allah. Nah, pemimpin yang dimaksud Al Quran adalah dalam pengertian yang berkaitan dengan keselamatan ukhrawi itu. Artinya, jika kita mau melakukan suatu perbuatan, dan kita takut jika salah langkah akan berakibat sengsara di akhirat, maka Sang Pemimpin itulah tempat kita bertanya mencari petunjuk.
Misalnya, ada seorang muslim ingin minum bir berkadar alkohol rendah (katakanlah, di bawah 1%). Jika bir seperti itu ternyata hakikatnya adalah khamr yang haram itu, maka jelas orang itu akan berdosa dengan meminumnya dan akan berkonsekuensi buruk di akhirat. Nah, dalam ketidaktahuan atau keraguan seperti inilah, orang itu perlu bertanya kepada Sang Pemimpin itu, bukan kepada Gubernur.
Contoh lain, misal ada seorang muslim di kota ini yang nafsu syahwatnya tinggi tapi istrinya cemburuannya minta ampun dan lingkungannya nggak mendukung poligami. Kalau dia bertanya kepada Gubernur atau Walikota, kira-kira begini, “gimana pak kalau saya jadi langganan lokalisasi P di kota ini, boleh nggak pak?”. Apa kira-kira jawaban para pemimpin politik itu? Sebagai pemimpin politik, tentu jawabannya akan didasarkan pada peraturan yang berlaku, entah itu Perda atau SK Kepala Daerah. Nah, berdasarkan ini, jelas bahwa menjadi pelanggan suatu lokalisasi adalah sah-sah saja alias mubah-mubah saja kan? Nah, kalau orang itu mengikuti ini, jelas konsekuensi ukhrawinya sangat buruk baginya.
Demikian pemikiran Otong.
Setelah menjelaskan ini kepada istrinya, si Otong bertanya, "apakah peraturan Gubernur atau Walikota yang harus ditaati dalam masalah di atas, ataukah peraturan agama?" Istrinya menjawab tegas, "ya jelas dong, kalau masalah halal haram, ulama pasti lebih tahu".
That's it. Karena itu, kita nggak usah kuatir punya Gubernur non-muslim.
Otong pun kemudian melanjutkan penjelajahan perenungannya.
Pada setiap tindakan kita yang berhubungan dengan konsekuensi ukhrawi, kepada Pemimpin kitalah seyogyanya kita bertanya minta petunjuk. Nah, dalam hal-hal seperti ini Gubernur bukan pemimpin kita. Bahkan, dengan memahami pengertian hakiki pemimpin seperti yang dimaksud Al Quran ini, kiranya tidak ada masalah jika pun Presiden RI adalah non-muslim. Benar, Presiden, Gubernur, Walikota dll. itu adalah pejabat-pejabat Negara Kesatuan Republik Indonesia dan pemimpin-pemimpin dalam pengertian bahasa sehari-hari, tapi BUKAN pemimpin dalam pengertian syar’i seperti yang dimaksud oleh Al Quran itu.
Ayat An-Nisa: 59 mempertegas pengertian pemimpin yang seperti ini. "Yaa ayyuhalladzina aamanu athii'ullaha wa athii'uur rasuula wa uulil Amri minkum..."
Ayat ini mengemukakan prinsip Tauhid bahwa ketaatan itu HANYA kepada Allah saja. Dalam prakteknya sehari-hari, ketaatan kepada Allah ini, tentu saja, HARUS diwujudkan melalui ketaatan kepada Mahluk2 Pilihan-Nya, yaitu para Ultimate Khalifah-Nya, yang di jaman akhir ini adalah Rasul SAW dan Ulil Amri di antara kita. Mereka (Rasul SAW dan Ulil Amri)-lah para pemimpin kita, yang bilamana kita memerlukan petunjuk untuk melangkah (agar nggak salah langkah sehingga berakibat sengsara di akhirat) maka kita bertanya kepada mereka dan kemudian mentaati petunjuk mereka.
Si Otong sampai kepada pemahaman bahwa Ulil Amri tidak harus sukses menjadi pemimpin politik, dan sebaliknya, pemimpin politik BELUM TENTU adalah orang-orang yang Allah tetapkan sebagai Ulil Amri kita.
Ini seperti halnya Rasul SAW. Kalaupun toh misalnya beliau SAW tidak berhasil menjadi pemimpin politik Negara Madinah waktu itu, TETAP saja beliau adalah Rasul terakhir dan Pemimpin yang wajib ditaati oleh kaum muslimin. Kita kan semua tahu Rasul SAW pernah menolak ketika ditawari menjadi RAJA (Pemimpin Politik) Arab oleh para kafirun Quraisy (karena mereka mensyaratkan kompromi antara gaya hidup jahiliah dg misi kenabian beliau). Hal ini karena tujuan Muhammad SAW adalah menyelesaikan misi nubuwahnya, BUKAN untuk menjadi pemimpin politik kalau itu mengharuskannya kompromi dengan tujuan nubuwah. Misi nubuwah nggak boleh dikompromikan dengan apapun.
Anyway, si Otong juga sadar, sebagian muslimin beranggapan bahwa ulil amri itu adalah para pemimpin politik kita. Maka, kiranya si Otong perlu melanjutkan penjelajahannya atas ayat An-Nisa: 59 ini. Lain waktu, insya Allah.
Wallahu a’lam
Wassalam
Agung Sugiri
Salaam alaikum
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa aali Muhammad
Akhir-akhir ini si Otong sedang gundah. Pasalnya, pengajian di kantornya Jumat malam kemarin dipenuhi perdebatan antara paham pluralism dan exclusivism. Para eksklusifis menuduh yang pluralis sebagai terpengaruh paham Barat-liberal dan pandangan para orientalis yang menganggap semua agama sama dan kebenaran itu relatif, sehingga orang boleh seenaknya pindah agama dan masih bisa masuk surga. Sementara itu, yang pluralis juga nggak mau kalah dengan argumen2 mereka, dan menuduh yang eksklusifis sebagai kaum radikal bin fundamental yang mengklaim surga adalah miliknya sendiri. Eksklusifis radikalis ini, masih menurut teman2 pluralis, sangat mudah men-cap kafir sesama muslim sendiri, sedemikian hingga dengan sedikit sentuhan aja lagi mereka akan berubah menjadi teroris.
Perang argumen ini menjadikan Otong bingung. Di satu sisi dia yakin banget sama Islam-nya sebagai satu-satunya kebenaran yang akan membawa para pemeluknya ke surga. Keyakinan ini tentu membawa konsekuensi bahwa yang non-muslim adalah kafir dan bakalan masuk neraka, bukan? Tapi di sisi lain, argumen teman2 pluralis cukup meyakinkan juga. Bahkan juga didukung ayat2 Quran yang mengindikasikan bahwa keselamatan itu juga bisa diraih orang Nasrani, Yahudi dan Sabian (tentu, maksud Quran yang tiga ini cuma contoh aja, jadi bisa diperluas konteksnya) asalkan mereka bertauhid, percaya hari akhir, dan beramal salih.
Otong berpikir keras bagaimana mengkompromikan antara keyakinan kebenaran mutlak Islam-nya dengan pandangan bahwa pemeluk agama lain pun bisa masuk surga walaupun mereka nggak mengakui Muhammad SAW sebagai rasul dan nggak menjalankan kewajiban2 ibadah Islam seperti shalat, puasa Ramadhan, dll itu. Jika nggak harus dikompromikan, artinya ditelaah secara masing2, sebetulnya Otong mengakui kedua paham ini. Tapi bukankah jika dipertemukan keduanya menjadi bertentangan? Buktinya ya itu tadi, pengajian di kantornya jadi rame gara2 ada pegawai baru yang melontarkan issue ini. Emang sih, itu pegawai baru adalah lulusan IAIN dan bergelar doktor dari luar negeri, dan katanya udah sering nulis di jaringannya Islam liberal.
Makin bingung deh Otong. Apalagi, dia barusan nanya ke Ujang, eh bukannya pencerahan, malah penggelapan yg didapat. Kata Ujang, "jawabannya tunggu gua mimpi ketemu Haji Yunus dulu ya...". Maka, untuk mengatasi kegundahan ini, Otong memutuskan untuk bertamu ke Haji Yunus malam ini dan mendiskusikan masalah ini.
Singkat cerita, sepulang dari kantor, sekitar jam 8 malem Otong langsung menyambangi pak Haji Yunus. Dengan sabar Haji Yunus mendengarkan uneg2 Otong sambil sesekali mempersilakannya mencicipi kacang goreng dan kue mangkok bikinan bu Haji.
"Begini nak Otong, memang pluralism sedang hangat jadi kontroversi, apalagi di tengah maraknya tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama. Sebagian orang berpendapat bahwa toleransi antar agama belum cukup untuk mencegah kekerasan2 itu. Karena itulah, pluralism kemudian berusaha dikenalkan. Cek orang Inggris mah, religious pluralism goes beyond religious tolerance, sebab di sini ada pengakuan dari siapapun pemeluk agama bahwa keselamatan ukhrawi itu boleh diperoleh pula melalui agama lainnya. Kalau nak Otong mengamati, tokoh2 pengusung pluralism di antaranya adalah John Hick dan Frithjof Schuon. Dan tak kurang pula Ayatullah Syahid Muthahhari dan Muhammad Legenhausen ikut memperkaya wawasan pluralism. Sedangkan tokoh2 Indonesia, tentu nak Otong juga udah tahu."
"Sayangnya", lanjut pak Haji, "sebagian saudara2 kita menyalahpahami konsep ini dan berpendapat bahwa ini sama saja dengan kampanye kebenaran relatif, sehingga akibat lanjutannya adalah menurunkan atau bahkan memadamkan gairah dakwah Islam. Apa gunanya berdakwah, kalau toh para nonmuslim pun bisa masuk surga, tukas mereka." Pak Haji berhenti sejenak sambil mempersilakan Otong minum dan menikmati makanan kecil yang ada.
"Lho, maaf pak Haji, bukannya interupsi", kata Otong setelah menyeruput kopinya, "tapi, bukannya memang kebenaran relatif itulah maksud religious pluralism? Padahal, bukankah Islam itu adalah satu2nya kebenaran alias kebenaran mutlak yang datang dari Allah, sedangkan agama2 lain itu sudah bercampur kebatilan?"
Pak Haji Yunus tersenyum, "Benar, kebenaran mutlak itu hanya satu. Kalau kita amati, salah satu perbedaan mendasar pandangan Hick-Schuon dibanding Muthahhari-Legenhausen adalah bahwa yang disebut belakangan itu menekankan adanya cuma satu kebenaran. Artinya, memang kebenaran mutlak itu ada dan manusia boleh mancapai kebenaran mutlak ini, sebab Allah telah menginformasikan kebenaran mutlak ini melalui para Nabi/Rasul AhS yang ma'shum dan para Imam penerus mereka (alaihim assalam) yang juga ma'shum. Orang2 yang ma'shum ini dijaga Allah dari kemungkinan salah dalam menyampaikan informasi dan mengajarkannya kepada manusia, sesuai dengan ayat 'wa maa yanthiqu 'anil hawa, inhuwa illa wahyun yuha' (An-Najm). Siapapun manusia yang dengan ikhlas mengikuti para ma'shumin ini -dan kita tahu, alhamdulillah, ada satu orang ma'shum yang hidup yang menjadi Imam kita (ajalallahu ta'ala farajahusy syarif) saat ini-, maka kebenaran yang diyakini orang itu adalah kebenaran mutlak, sebab kebenaran yang diajarkan para ma'shumin adalah kebenaran mutlak. Ini dalam ranah aqidah lho ya, sedangkan soal amal, orang yang aqidahnya 100% benarpun bisa terpeleset beramal buruk :-)." Sejenak, pak Yunus menyeruput kopi panasnya.
Tiba-tiba Dadang, anak bungsu pak Haji yang baru berumur 3 tahun lebih, masuk dari belakang. "Eh, belum tidur, Dang?", sapa Otong. "Belum ngantuk, mang", kata Dadang sambil ngeloyor menghampiri Otong dan lalu mengambil piring hidangan Otong yang berisi kacang goreng dan kue mangkok. Habis itu Dadang langsung lari lagi ke belakang sambil cekikikan. "Eh, Dadang jangan nakal dong. Itu kan buat mang Otong. Dadang minta diambilin sendiri sama Umi sana," tegur pak Haji, tapi Dadang udah terlanjur ngacir ke belakang. "Sudahlah, pak Haji, nggak apa-apa, namanya juga anak kecil :-)", kata Otong maklum.
"Nah, begitulah nak Otong, peristiwa barusan bisa menjelaskan apa itu religious pluralism", lanjut pak Haji.
"Lho, maksud pak Haji gimana?" kaget juga Otong. Apa hubungannya si kecil Dadang sama religious pluralism?, pikir si Otong. "Begini", kata pak Haji, "gimana kalau tadi yang melakukan perbuatan itu, yaitu ngambil penganan orang lain tanpa ijin, adalah nak Otong sendiri?"
Otong langsung menimpali, "Ya kalau begitu sih, udah pasti saya salah dong pak Haji".
"Lalu kenapa nak Otong menganggap yang dilakukan Dadang tadi nggak salah, padahal kan perbuatannya sama, yaitu ngambil punya orang lain tanpa hak?" tanya pak Haji Yunus.
"Jelas dong", kata Otong, "Dadang kan masih kecil, masih BELUM NGERTI, sedangkan saya udah ngerti kalau itu tuh nggak bener".
"Nah, inilah pluralism, nak Otong. Perbuatan yang persis sama, ternyata hakikatnya adalah berbeda. Jadi, kalau nak Otong melakukan perbuatan itu berarti nak Otong berdosa, sedangkan kalau Dadang nggak berdosa, bukan?", timpal pak Haji.
"Ya, kira2 begitulah, pak Haji", kata Otong
"Nah, yang sebaliknya pun bisa terjadi, yaitu perbuatan atau keyakinan yang berbeda tapi hakikatnya sama", kata pak Haji Yunus.
Otong segera menimpali, "Saya bisa ngerti kira2 arahnya mau kemana sekarang, tapi dukungan nash-nya apa nih? Bukannya mau sok ilmiah lho, pak Haji".
"Bukankah nak Otong pernah dengar hadits yang menceritakan bahwa ada orang yang mengira dirinya sudah mati syahid dalam jihad fisabilillah, tapi di akhirat nanti ternyata orang itu dimasukkan ke neraka? Dan bukankah nak Otong juga nggak asing dengan hadits 'innama a'malu bin niyyat', sesungguhnya amal itu tergantung niatnya?", tanya pak Haji.
"Ya", timpal Otong.
"Begitulah", lanjut pak Haji, "dalam berbuat yang tadi itu si Dadang sama sekali tidak berniat buruk, melainkan berangkat dari ketidaktahuannya, sedangkan jika nak Otong yang melakukannya, jelas punya niat nggak baik, sebab udah tahu itu salah tapi masih berbuat juga padahal nggak ada unsur kedaruratan."
Haji Yunus berhenti sejenak untuk minum kopinya yang udah agak dingin. Kemudian lanjutnya, "Kesimpulannya, kebenaran mutlak dan religious pluralism nggak perlu bertentangan dan menimbulkan kontradiksi di dalam diri kita. Saya misalnya, sebagai muslim, tentu akan berdosa jika nggak shalat, nggak puasa Ramadhan tanpa ada uzur, atau jika saya ikut dalam jamaah misa di gereja atau ikutan makan bacon tanpa paksaan, dll. Dalam kategori aqidah, tentu saya akan berdosa atau bahkan mungkin dianggap Allah keluar dari agama, jika saya tidak meng-imani Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya, atau jika saya percaya bahwa Yesus AS itu benar2 Tuhan yang turun ke bumi. However, keyakinan ini hanya berlaku untuk diri saya sendiri, karena saya, alhamdulillah, sudah Allah beri pengetahuan. Tapi saya nggak bisa menganggap bahwa seseorang yang keyakinannya beda dengan saya adalah sesat dan masuk neraka, sebab saya toh nggak bisa mengetahui isi hati seseorang. Boleh jadi seorang nonmuslim punya keyakinan seperti itu karena ketidaktahuannya, dan bukan karena niat buruknya, sedangkan dalam hatinya dia tetap ikhlas men-Esa-kan Tuhan. Dan bagi siapapun nonmuslim yang kasusnya seperti ini, insya Allah, dia ibarat si Dadang yang boleh mendapat ampunan Allah, dan perbuatan2 baiknyapun bahkan boleh mendapat pahala dari-Nya."
"Secara fiqih", lanjut pak Haji, "ya, saya memperlakukan saudara2 nonmuslim sebagai kafir, yang panduan fiqihnya sudah lengkap di Islam, apapun madzhabnya. Tapi di sisi lain, Islam pun melarang saya untuk merasa lebih baik dari mereka. Coba nak Otong baca lagi nanti tulisan temen saya tentang 'ana khairu minhu'. Karena itu, secara hakiki belum tentu mereka itu kafir. Untuk menghindari perasaan 'ana khairu minhu', jauh lebih baik bagi saya untuk menganggap mereka sebagai Dadang-dadang saja. Jelas bahwa saya nggak lebih baik dari si Dadang, bukan :-)?"
"Waduh, alhamdulillah, terimakasih sekali, pak Haji", kata Otong penuh kelegaan, "sekarang saya jadi makin yakin dengan religious pluralism ini. Tapi, apakah pak Haji bisa memberikan nash-nash pendukung lainnya? Masalahnya gini, gimana kalau teman2 sekantor yang pro-exclusivism itu tiba2 menganggap saya sesat dan menyesatkan, atau bahkan meng-kafirkan saya? Sebab, bukankah bahkan MUI pun telah memfatwakan keharaman pluralism?"
Pak Haji tersenyum sabar dan berkata, "Kalau mau bicara soal ayat2 Quran dan hadits2 yang mendukung pluralism, bisa panjang lebar kita nanti. Lagian, bukannya di pengajian kantor nak Otong udah juga dibahas soal ini sama pak doktor pegawai baru itu? Kalau masih kurang mantap juga, coba deh, nak Otong baca sendiri tulisannya Syahid Muthahhari dan Legenhausen. Nanti saya pinjami, besok pagi biar diantar sama bi Inem ke rumah nak Otong".
"Wah, makasih banget nih, pak Haji, jadi ngerepotin", timpal Otong agak tersipu.
"Nggak apa-apa", lanjut pak Haji, "mungkin ada baiknya juga baca buku terbarunya Kang Jalal tentang ini. Saya juga pengin beli tuh buku, moga2 aja belum kehabisan :-). Nah, kalau soal dikafir-kafirin sih, bukannya tanpa mendukung pluralism pun ente udah dianggep sesat bin ahli bidah? He he... Dibawa enteng aja soal itu mah, anggep aja Dadang-dadang kecil sedang mengolok-olok nak Otong."
Demikian kisah si Otong. Semoga bermanfaat bagi otong-otong yang lain, dan tentunya bagi dadang-dadang juga, meskipun memang jauh lebih mudah menuliskan dibanding melaksanakannya, bukan? :-)
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa aali Muhammad
Wassalam
AS
Salaam alaikum
This piece is taken from IISB mailing group. It was originally posted around two years ago, as a reply to a forwarded message which abused Ayatullah Khumaini qs.
Enjoy...
--------------
Ana khairu minhu
Artinya adalah ‘aku lebih baik dari dia’. Ini adalah ucapan terkenal dari Iblis ketika menolak perintah Allah untuk sujud hormat kepada Adam AS. Iblis telah keliru dg kesimpulannya yg dipertahankannya sampai sekarang itu. Tapi mungkin sebagian dari kita banyak yg nggak sadar telah pula keliru dg mengikuti counter kesimpulan dari pendapat Iblis itu.
Pendapat Iblis bahwa api lebih baik dari tanah jelas keliru, tapi adalah juga keliru pendapat yg mengatakan bahwa tanah lebih baik dari api. Demikian pula, jika saya merasa bahwa saya lebih baik dari orang lain, atau lebih baik dari jin, atau lebih baik dari binatang sekalipun, agaknya saya perlu introspeksi secara lebih mendalam.
Ada sebuah riwayat yg sangat mengejutkan saya ketika pertama kali membacanya. Begini. Kita tahu bahwa nabi Musa AS sering bermunajat kepada Allah. Dalam suatu munajatnya, Allah meminta Musa agar pada munajat berikutnya dia membawa serta seseorang yang dia merasa lebih baik dari orang itu. Tentu kita akan berpikir bahwa ini sebuah tugas yg sangat mudah. Bukankah Musa adalah nabi yg ma’shum (bebas dari dosa) yg diutus Allah kepada suatu kaum? Maka hampir pasti bahwa setiap orang lain di kaumnya itu adalah lebih buruk dari dia, sebab tentu dialah yg paling taqwa dan paling mulia, sesuai dg “inna akramakum indAllahi atqaakum” (al Hujurat: 13). Maka tentunya dia tinggal comot aja salah satu dari mereka untuk diajak ke munajatnya yg berikutnya itu.
Nabi Musa pun mulai mencari siapa gerangan yg dianggapnya lebih buruk darinya. Tapi apa yg terjadi? Setiap kali bertemu orang, Musa AS tidak dapat mencapai suatu kesimpulan bahwa dia lebih baik dari orang itu. Ya, Musa AS, sang pemimpin umat di jamannya itu, tidak pernah merasa lebih baik dari seorang lainpun. Akhirnya, Musa beralih kepada mahluk Allah lainnya. Siapa tahu di antara binatang itu ada yg bisa dianggap lebih buruk darinya. Tapi sama aja, hasilnya nihil. Bahkan Musa AS sempat bertemu dg seekor bangkai keledai. Tapi ketika sempat diseretnya bangkai itu beberapa langkah, hati Musa berkata tidak. Ya, Musa AS bahkan tidak merasa lebih baik dari seekor bangkai keledai!!! Maka, ketika datang waktunya bermunajat, Musa menghadap Allah dg tangan hampa. Tapi justru Allah memuji Musa dan berkata bahwa jika dia menghadap dg membawa seseorang atau sesuatu mahluk yang dia merasa lebih baik darinya, maka Allah akan mencabut SK kenabian Musa!!!
Jika ada yg nggak kaget dengan cerita ttg Musa AS itu, alhamdulillah, kiranya antum sudah dikaruniai pemahaman sempurna tentang hakikat tauhid dan keikhlasan hati. Kisah itu saya baca di salah satu artikel kang Jalal yg diforward ke sebuah milis beberapa tahun lalu. Kemudian saya baca pula cuplikan sangat singkatnya di nasihat sufistik ayatullah Khomeini untuk anaknya.
Jika kisah itu hanya mengandungi pesan untuk jangan pernah merasa lebih baik dari orang lain karena dapat memicu kesombongan diri (seperti pesan yg hendak disampaikan kang Jalal maupun ayatullah Khomeini), tentu saya nggak kaget sebab ini sesuai dg pesan Al Quran (al Hujurat: 11; Luqman: 18). Tapi, bahwa nabi Musa AS sampai merasa tidak lebih baik dari seekor bangkai, bukankah ini nggak masuk akal? Jangan2 riwayat ini dhaif (lemah) atau bahkan palsu, begitu pikiran saya waktu itu. Tapi, alhamdulillah, disamping itu sayapun mempersiapkan perenungan alternatif daripada sekedar menuduh palsunya riwayat ini.
Dan akhirnya, Islam yg saya pahami ternyata memang melarang saya untuk merasa lebih baik dari apapun mahluk selain saya (termasuk seekor bangkai busuk sekalipun). Mungkin akan perlu penjelasan panjang, tapi pembahasan singkat dua ungkapan bijak berikut ini mudah2an membantu.
· Semua orang dalam keadaan merugi kecuali yang berilmu, dan semua yang berilmu adalah merugi kecuali yang beramal (sesuai dg ilmunya), dan semua yang beramal akan merugi kecuali yang ikhlas (Imam Ali salamullah ‘alaihi).
Ikhlas, secara singkat, adalah ketika kita beribadah tidak untuk masuk surga atau untuk menghindari neraka, karena jika demikian maka sebetulnya ibadah kita masih hanya untuk ego diri sendiri. Ikhlas adalah ketika kita beribadah semata-mata untuk Allah, karena hanya Allah-lah Satu2nya yang Berhak atas ibadah kita. Ikhlas adalah ketika kita berdoa bukan untuk dikabulkannya doa itu (di dunia ini), tapi karena Allah-lah Satu2nya yang Berhak mendapatkan pengharapan kita, Satu2nya Tempat Bergantung. Ikhlas adalah ketika kita tidak pernah mengingat-ingat amal2 baik kita, tapi selalu ingat kepada amal2 buruk kita dan kebaikan2 orang lain. Maka ketika Musa AS bertemu mahluk2 Allah lainnya, yang terlintas di hatinya adalah keburukannya sendiri dan kebaikan2 mahluk2 lain itu. Dengan keikhlasan hati seperti ini, mana mungkin dia tega untuk merasa lebih baik.
· Karena Allah itu Baik dan Suci, maka semua kebaikan dan kesucian adalah dari Allah sedangkan semua keburukan dan kekotoran adalah dari nafsu kita. (sering kita dengar di ceramah2 agama, akhirul kalam si penceramah: “yang benar datangnya dari Allah dan yang salah adalah dari diri saya sendiri”)
Maka ketika Musa AS tekun beribadah, berbuat baik, dan menjaga kesucian diri, dia sadar betul bahwa itu semua bukan dari dirinya, melainkan datang dari Allah jualah kiranya. Maka kira2 Musa berpikir begini: “Kebaikan apakah yang telah aku perbuat sehingga boleh dibangga-banggakan, jika semua itu hakikatnya adalah dari Allah? Maka pantaskah aku merasa lebih baik dari mahluk lain jika tidak ada sesuatu kebaikanpun yang mampu aku lakukan? Bukankah imanku, ilmuku, ibadahku dan taqwaku semuanya adalah pertolongan Allah belaka dan sama sekali bukan jasaku? Maka mana mungkin aku boleh merasa lebih baik dari seekor bangkai ini? Si bangkai ini, dengan pertolongan Allah, dapat menjalankan fungsinya dengan sebaik-baiknya di dunia ini (membusuk dan menjadi penyubur tanah). Akupun, insya Allah dapat menjalankan dg baik fungsi kenabianku karena pertolongan Allah, bukan karena aku. Bahkan jika menuruti ke-aku-anku, boleh jadi aku bakalan terjerumus kepada kekotoran dan gagal menjalankan fungsiku karena melupakan kepasrahanku (tawakal), kebergantunganku (tafwidh), ketundukanku (taslim) dan kepuasanku (ridha) kepada-Nya. Sedangkan si bangkai ini tidak mungkin gagal menjalankan fungsinya karena nggak mungkin menuruti ke-aku-annya sebab dia nggak dikaruniai Allah kebebasan memilih. Allahush Shamad, sedang kita selalu bergantung kepada-Nya; Allah itu Wajibul Wujud, sedangkan kita ini Mumkinal Wujud, yg dapat eksis hanya jika ada sebab2 yg mendahuluinya yg semuanya berpangkal dari Sang Prima Causa, Sang Wajibul Wujud; innAllaha ‘ala kulli syai’in qadir (Allah itu berkuasa atas segala sesuatu), sedang kita ini hakikatnya nggak berkuasa atas sesuatupun. Jika bukan karena rahmat Allah, tentu diri (nafs) ini sudah terpuruk dalam keburukan (“Inna nafsa la ammaratun bissuu-i illa maa rahima rabbi”, Yusuf: 53). Maka tak ada sesuatupun yg boleh aku banggakan, dan jelas bahwa aku tidak pantas untuk merasa lebih baik dari bangkai ini.”
Itulah pula sebabnya mengapa Rasul Muhammad (Shallallahu ‘Alaihi Wa aalihi wasallam) selalu tekun shalatul lail dan minta ampunan Allah padahal sudah dijamin masuk surga, sehingga membuat Aisyah bertanya-tanya. Tak lain tak bukan karena Nabi SAW sadar betul bahwa semua amal baik, kesucian dan taqwanya itu adalah bukan jasa diri ke-aku-annya, tapi semata-mata adalah rahmat dan pertolongan Allah belaka, dan karena itulah maka Rasul SAW wajib bersyukur.
“Wa maa yanthiqu ‘anil hawa. Inhuwa illa wahyun yuha.” (An Najm: 3-4). Rasul SAW adalah seorang yg berhasil untuk SELALU (setiap saat, kapanpun dan dimanapun) tidak menuruti hawa nafsunya, sehingga ketika dia berbicara hakikatnya Allah-lah yg berbicara, dan ketika dia melihat maka mata Allah-lah yang melihat, dan ketika dia melakukan sesuatu dg tangannya, maka tangan Allah-lah yang melakukannya. Orang2 seperti ini telah berhasil meng-eliminasi aku-nya dan karenanya tergantikan oleh Sang AKU (Allah). Inilah yg sering diistilahkan oleh para ahli irfan (tasawuf) sebagai ‘fana fi Allah’. Orang2 seperti ini berhak mengucapkan “Ana (AKU, bukan aku) al Haq”, karena setiap ucapan dan perbuatannya adalah kebenaran dari Allah. Karena itulah, ketaatan kepada Rasul SAW hakikatnya adalah ketaatan kepada Allah, sesuai dg ayat “athiullah wa athiur rasul wa ulil amri minkum” (taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil Amri di antaramu).
Nah, ketika ke-aku-an ini berhasil di-eliminasi, bagaimana mungkin masih merasa bahwa “aku lebih baik dari dia”? Bukankah si aku ini nggak punya andil apa2 dalam setiap kebaikan yg diperbuat? Bukankah si aku ini malah kerjanya membisikkan dan ngojok-ojoki kepada keburukan? Maka nggak mungkin aku lebih baik dari dia.
Suatu ketika Aisyah ditanya, "kapan seseorang itu bisa berlaku jahat?". Aisyah menjawab, "bila ia mengira bahwa dirinya telah berbuat baik". Jawaban yg singkat tapi penuh makna.
Saya membayangkan, ketika seorang yg ikhlas melihat ayatullah Khumaini, yg terlintas di benaknya adalah kebaikan2 beliau dan beratnya perjuangan beliau dan rakyat Iran melawan musuh2 Islam, mulai dari Shah Pahlevi, Amerika, Saddam Husain, Israel sampai anasir jahat di dalam negeri. Kemudian terlintas pula di benaknya keburukan2 dirinya sendiri sehingga alih2 mencemooh sang ayatullah, dia akan sibuk ber-istighfar dan introspeksi...
Wallahu a’lam
Wassalaam
Agung Sugiri
Salaam alaikum
This is taken from Diskusi Fatimah (DF) at yahoogroups dot com. I wrote it around two years ago and posted to DF as a response to a forwarded message by akhi Isa Ansori. The main article is in English, although the intro is in bahasa Indonesia. Hope you enjoy it.
Wassalam
Agung Sugiri aka Abdullah bin Umar
From: Ibnu Umar
To: diskusi_fatimah@yahoogroups.com
Date: Thursday, 26 May, 2005 11:49:56 PM
Subject: [diskusi-fatimah] Imamah ditetapkan oleh Allah (Re: Mengenal ajaran Ahlul Bait dan perilaku Syi'ahnya - 3
Salaam alaikum
Meskipun tulisan yg mas Isa fwd belum selesai, agaknya ada 1 point penting yg hendak disampaikan si penulis: bahwa pemimpin umat sepeninggal Nabi Muhammad SAW TIDAK DITETAPKAN oleh Allah. Ini memang sebuah point yg diyakini oleh sebagian besar Sunni.
Di sini, saya akan coba memberikan alternatif cara pemahaman konsep imamah tanpa merujuk kepada nash2 (ayat Quran maupun hadits). Akal kita dapat memahami konsep Imamah, seperti halnya akal dapat memahami bahwa Allah itu ada dan bahwa Muhammad SAW adalah benar2 rasul-Nya. Akal adalah pintu masuk kepada sami'na wa atha'na. Begitu akal kita membenarkan bahwa Allah itu ada dan Esa, dan Muhammad SAW adalah rasul-Nya dan Imamah adalah sebuah konsep yang pasti dari Allah, maka yg kita perlukan kemudian hanyalah sami'na wa atha'na kepada Rasul SAW dan para Imam AhS penerus beliau.
Coret2an sederhana saya di bawah, mudah2an membantu. Karena based on aqal, maka setiap pembaca mempunyai dasar yg sama, no disputed ayats, no disputed hadits. Nggak ada latar belakang khusus yg diperlukan untuk membacanya dan merenungkannya, kecuali mungkin sedikit pemahaman mengenai sistem. Saya yakin setiap anggota milis Fatimah udah paham apa itu sistem.
Mohon maaf coret2annya dalam bahasa inggris. Sengaja, siapa tahu ketemu bule yg tertarik sama agama :-). Satu catatan lagi adalah menyangkut kata 'compare' yg punya pengertian khusus di bhs inggris. Dua hal yg bisa di-compare adalah dua hal yg mempunyai kesamaan. Karena itu dalam Quran dinyatakan, Allah itu laisa kamitslihi syai' (Allah itu tidak ada sesuatupun yg serupa dg keserupaan-Nya, or in other words, Allah is incomparable to anything). Hal ini sangat diperlukan ketika sampai pada point 8 dari renungan di bawah ini.
Semoga bermanfaat.
--------------
The Concept of Imamah based on Aqal: questions to everyone
By: Abdullah bin Umar
Bismillahir Rahmanir Rahim
Allahumma shalli ala Muhammad wa aali Muhammad
Imamah is defined as leadership of a system. It is a general concept as a consequence of Tauhid, and has nothing to do with the dispute among muslims with regard to muslim leader succession after the demise of Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wa aalihi wa sallam). Therefore, to understand the concept of Imamah, using our logic is enough. Then, and only then, when we proceed to further steps with regard to questions like ‘who have been our Imams?’ and ‘who is our Imam at this age?’, we do need Quranic verses and ahadits of Rasulullah SAW. But first, it is important to understand the basic concept of Imamah using our aqal that is free from sectarian prejudice. For this purpose, we need to answer these questions:
1 Do you recognise that a car (let’s say a Honda Civic) is a system? If your answer is yes, then we can proceed. If no, please explain why. Let’s suppose your answer is ‘yes’.
2 Do you believe that a good family is supposed to be a system? Again, if your answer is yes, we can proceed. If not, please explain why. Let’s suppose your answer is ‘yes’.
3 Do you believe that a good country is a system? If your answer is yes, please go to the next question. If no, please explain. Again, suppose your answer is ‘yes’.
4 How do you understand Allah? If a human is smart, is not Allah The Smartest? If a human is gracious, is not Allah The Most Gracious? If a human is just, is not Allah The Most Just? If a human is efficient, is not Allah The Most Efficient? If a human is a planner, is not Allah The Best Planner? If your answer is yes, please go to the next question. If not, please explain. Suppose your answer is ‘yes’.
5 Who has been creating these whole worlds and all creatures within, between and beneath them? If your answer is Allah, please go to the next question. If not, then explain who has been? Suppose your answer is ‘Allah’.
6 Bearing the answer of question 4 in mind, do you think Allah has been creating this whole universe as A SYSTEM or NOT? Please remember that you already recognise that people in Honda make a car as a system, a man and his wife make a family as a system, and people make their country as a system. This is Allah who creates people we are talking about, and who is The Smartest, The Most Just and The Most Efficient. If your answer is ‘not a system’, then our discussion ends. Of course if you’d like to explain, you may do so. However, let’s suppose again that your answer is ‘yes, a system’.
7 Now that we have a very important understanding that this whole universe is a system (one may remember the Gaia hypothesis :-)). How many ultimate leaders do we need to run a good working system? I bet your answer is ONE. Yes, every system only needs ONE ultimate leader to get the system running towards its goal.
8 Now, we have achieved another important understanding that this whole universe is led by ONE ultimate leader. Let us call this ultimate leader IMAM. Do you think this Imam is Allah Himself? If your answer is ‘yes’, then let me tell you that you are COMPARING The Creator with creatures.
The whole universe and all the containing are His creatures. Believing that Allah Himself directly leads the system of the universe (without appointing His representative/khalifatullah) is similar to believing that ALLAH IS A PART of the universe (in other words: a part of creatures). Naudzubillah. Why? It is a simple common sense that a system consists of its parts or elements. Those elements work together according to their specific jobs to achieve the system’s goal. Of course, certain elements may form a subsystem, within which one element acts as the leader of the subsystem. However, within the whole system only one of the elements is the system’s ultimate leader.
Please always remember the answers of the first three questions above. We all know that Indonesia as a system, its ultimate leader is The President of The Republic of Indonesia, and he is a human, not God. You can take any other system in this universe and can easily find out that the leader is always one of its elements, not God. We all know the fundamental principle of God as The Prime Cause, that The Creator (The Prima Causa/Wajibul Wujud, whose existence does not depend on any cause) CANNOT be compared with creatures (Mumkin al Wujud, whose existence depends on preceeding causes). Any element of a system that is claimed as god, but is still comparable to other elements, is certainly NOT The Prime Cause, simply because this comparable god may also have its creator. Thus, this god is not really God.
9 Therefore, the universe is a system led by ONE of its elements, that is also A CREATURE.
10 The final question is: who has appointed an element of this universe as its Imam in every era? Bearing in mind the answers of previous questions, it is the easiest one to answer. Yes, Allah Himself, The Creator of the universe and all it contains, has appointed Imams of the system, because He is The All Knowing. The elements do not know what best for the system to work. Only Allah, The Creator, knows.
This is the concept of Imamah. The whole universe always has ONE Imam, and so do we as parts of the universe. Of course, The Imam is not immortal because he is a creature like us, and only Allah is Immortal. So, when an Imam passed away, the succeeding Imam was always there to continue functioning as the system’s ultimate leader.
That this universe is still working good in its regularity, is an important indication that the system still works, and a system can work IF AND ONLY IF it has AN IMAM in it. Until one day in the future, when The Last Imam dies… you can imagine… doomsday occurs. Please imagine a car without a machine, or a PC without a main processor.
Wallahu a’lam
--------------
Syiah Itsna asyari bukanlah satu2nya kaum yg meyakini bahwa dunia ini punya satu Imam. Kita tahu kalangan Katholik percaya Paus adalah khalifah Tuhan (Jesus) di bumi. Kita juga tahu tarekat2 tasawuf meyakini mursid2 besar mereka sebagai wali2 qutb, alias Imam dari the universe. Beberapa sekte juga percaya pemimpin mereka adalah Imam Mahdi yg dijanjikan itu, seperti Salamullah, Ahmadiyah, dll.
Nah, ketika kita mencari tahu siapa Imam Zaman kita itu, maka kita perlu nash2 Quran dan hadits. Tapi, akal kitapun boleh membantu. Misalnya, apa sih kriteria seorang Pemimpin Semesta Alam? Akal boleh menjawab pertanyaan ini, dan dg berbekal jawaban inilah kita boleh test mereka yg mengklaim sebagai Imam Zaman, apakah mereka benar2 memiliki kriteria Imam Zaman.
Test sederhana -dan lucu- pernah dilakukan Bahlul kepada Harun al rasyid. Kita tahu raja2 umayah-abbasiyah mengklaim diri sebagai amirul mukminin, khalifatullah fil ardh. Dalam sebuah percakapan, Bahlul yg dirubungi lalat meminta Harun supaya menyuruh lalat2 itu menyingkir. Terang aja Harun nggak bisa, dan menjawab "lalat2 itu bukan rakyatku". Ini sebagai bukti bahwa Harun yg mengklaim khalifatullah (amirul mukminin: the ultimate one!) BUKAN benar2 the ultimate khalifatullah at that time.
The real khalifatullah adalah Pemimpin Semesta, yg lalat2 pun termasuk dalam element sistem yang dipimpinnya. Maka jika the real khalifatullah memerintahkan supaya lalat2 itu pergi, mereka akan menuruti perintahnya. Bulan pun boleh terbelah atas perintah Sang Khalifatullah (ingat mukjizat Nabi SAW, al Qomar).
Demikian. Mudah2an kita nggak putus asa dalam usaha mencari dan mengenali siapa Imam Zaman kita alaihis salam.
Mohon maaf jika terlalu panjang.
Wa sallam
Abdullah
Salaam alaikum
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa aali Muhammad.
Pada bagian ketiga yang lalu, kita sudah sampai pada bagian ayat Kursi "Ya'lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum, wa laa yuhithuuna bi syai'in min 'ilmihi illa bimaa syaa"; He knows what is before THEM and what is behind THEM, and THEY cannot comprehend anything out of His knowledge except what He pleases. Kali ini, mari kita tengok penggalan terakhir ayat Kursi, "wasi'a kursiyyuhus samaawaati wal ardla wa laa ya-uduhu hifzhuhuma, wahuwal 'aliyul 'azhim"; yang terjemahan Melayu-nya di software Al Quran Sakhr ver. 6.31 adalah: Luasnya Kursi Allah (ilmuNya dan kekuasaanNya) meliputi langit dan bumi; dan tiadalah menjadi keberatan kepada Allah menjaga serta memelihara keduanya. Dan Dia lah Yang Maha Tinggi (darjat kemuliaanNya), lagi Maha Besar (kekuasaanNya).
Di sini, Kursi Allah dipahami (oleh sang penterjemah) sebagai ilmu-Nya dan kekuasaan-Nya. Ini wajar saja, sebab di penggalan sebelumnya dibicarakan mengenai ilmu dan pengetahuan Allah, dimana sesuai kaidah tauhid, ilmu itu hanya milik Allah dan pengetahuan para pemberi syafa'at itu tak lain tak bukan adalah dari Allah belaka. Pemahaman ini banyak digunakan oleh para mufasirin Al Quran. Sayyid M. Husain Thabathabai dalam Tafsir Al Mizan, misalnya, juga mendukung pemahaman ini dengan berlandaskan penjelasan Quran by Quran, akal maupun hadits2 ahlulbait AhS, tentu saja dengan pembahasan yang jauh lebih mendalam, a.l. dengan membandingkannya dengan pengertian 'Arsy Allah, maupun menguraikan liputan ilmu mulai dari pengetahuan tentang hal2 yang belum me-materialised sampai yang sudah.
Di lain pihak, para mufassirin rujukan sebagian muslimin lainnya, agaknya memahami Kursi Allah sebagai "pokoknya Kursi, tapi tidak seperti kursi yang sering kita duduki itu", yang kalau ditanya penjelasan lanjutannya akan berujung kepada "I have no idea" :-). Contohnya, silakan lihat Al Quran terbitan Arab Saudi yang saya yakin banyak dimiliki oleh muslimin Indonesia, dan juga banyak tersedia di mushalla Hawken Drive, catatan kaki 161 yang berbunyi "... Pendapat yang sahih terhadap ma'na "Kursi" ialah tempat letak telapak kakiNya". Tentu, kalau ditanya lebih jauh yang dimaksud telapak kaki Allah itu apa, pasti jawabnya "pokoknya telapak kaki, tapi tidak seperti telapak kaki yang selama ini kita kenal", dan kalau ditanya lebih jauh lagi, ujung2nya adalah "I have no idea".
Maka kita amati di sini ada DUA kubu, sebut saja Kubu pro-Takwil*) yang memahami Kursi Allah sebagai ilmu atau kekuasaan Allah, dan Kubu Non-takwil yang menghentikan pemahamannya pada titik "have no idea". Permasalahannya adalah kebanyakan dari Kubu Non-takwil menganggap takwil sebagai bid'ah dimana pelakunya adalah sesat dan setiap yang sesat tempatnya di neraka. Di lain pihak, Kubu pro-Takwil berpendapat bahwa setiap ayat Al Quran boleh dan bisa dipahami oleh manusia, sebab setiap ayat itu adalah petunjuk bagi kita semua. Jika ada ayat Quran yang TIDAK BOLEH dimengerti oleh manusia, maka itu berarti Allah telah menurunkan sesuatu yang FOR NOTHING. Padahal, kesia-siaan adalah mustahil dinisbatkan kepada Allah. Karena itu, takwil**) adalah salah satu metode memahami Quran, dan pelakunya berarti telah ber-ijtihad, yang kalaupun salah masih mendapatkan satu pahala, dan setiap pahala adalah nilai positif menuju surga :-).
Terlihat kan bedanya? Sementara kubu non-takwil memandang hina saudara2nya yang di kubu lainnya, yaitu dengan menganggap mereka sebagai ahli bid'ah calon penghuni neraka, kubu takwil sama sekali tidak menganggap yang tidak bertakwil akan jatuh ke neraka. Kita semua menyadari bahwa tidak semua orang dikaruniai Allah kemampuan dan ilmu yang sama, dan karenanya bagi yang tidak mampu ya tidak apa2. Men-takwil bukanlah sesuatu yang wajib, yang meninggalkannya diancam dosa. Jadi, sah-sah saja untuk tidak bertakwil, toh maqam seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh apakah dia mampu dan mau mentakwil atau tidak, tapi oleh taqwanya.
Anyway, istilah ta'wil itu sendiri sebetulnya bukan hal yang asing. Ianya ada disebutkan di Al Quran sendiri dan hadits Rasul SAW. Lihat misalnya ayat athiullah wa athiurrasul wa uulil amri minkum (An Nisa: 59), di ujung ayat dikatakan "dzalika khairun wa ahsanu ta'wila" (itulah takwil yang baik dan paling bagus). Maknanya apa? Kita tahu bahwa pemahaman se-hari2 masyarakat jika mereka berselisih, penyelesaiannya adalah either dengan gontok2an atau perang sehingga pihak yang menang berantem dianggap sebagai pihak yang benar (seperti hobi berantemnya kabilah2 Arab waktu itu, ataupun hobi perangnya Bush dan konco2nya, ataupun tradisi carok-nya orang2 Madura :-), no offense to Maduranese though), atau dengan menyerahkan keputusan kepada penguasa politik mereka (kepala suku, gubernur, raja, presiden atau whatever). Common understanding ini ternyata dianggap tidak valid oleh Al Quran. Ta'wil yang benar adalah keputusan diserahkan kepada Allah dan Rasul-Nya (farudduuhu ilallahi warrasuul).
Artinya, ditunjukkan oleh ayat Al Quran ini bahwa ta'wil itu adalah suatu pemahaman yang BERBEDA dengan common understanding, dan ini adalah suatu metode yang logis saja, mengingat keadaan sosial ekonomi budaya suatu masyarakat dimana para Rasul AhS diturunkan umumnya adalah suatu keadaan yang perlu di-reform. Maka, common understanding yg didapat dari hasil proses sosial budaya ekonomi yg perlu direform itu tentu saja juga perlu direform (meskipun tentu ada juga sisi2 yg bisa dipertahankan). Karena itu, common understanding TIDAK BISA diterapkan secara membabi buta untuk memahami seluruh ayat2 Al Quran. Ada ayat2 yang pengertiannya menjadi melenceng jika dipahami based on merely common understanding, dan ada pula ayat2 yang boleh dipahami dengan common understanding (or you may say "literalism" if you like) tapi ayat2 itu juga mengandungi pengertian lanjutan yang lebih dalam lagi, dan untuk keperluan2 inilah diperlukan ta'wil. Gitu lho.
As for hadits yang mendukung ta'wil, saya cuplikkan sebuah hadits terkenal berikut, yang tercatat di Musnad Ahmad, Mustadrak Al-Hakim, Kanzul Ummal, dll. Abu Sa`id alKhudri reports: "We sat waiting for the Messenger of Allah (S) when he came out to meet us. The strap of his sandal was broken and he tossed it to `Ali. Then he (S) said, 'A man amongst you will fight the people over the TA'WIL of the Qur'an in the same way as I have fought over its tanzil (revelation).' Thereupon Abu Bakr said, 'Is that I?' The Prophet (S) said, 'No.' Then `Umar asked him, 'Is that I?' 'No.' said the Prophet (S). 'It is the mender of the sandal (i.e. `Ali).'"
Hadits ini menunjukkan tidak saja ta'wil itu ada dalam upaya memahami Al Quran, tapi juga menunjukkan adanya authority penta'wilan. Di antara takwil yg ber-beda2 ada takwil yang benar di mata Allah. Di sini Rasul SAW men-sahkan Imam Ali AS sebagai seorang pentakwil yang authorised, meskipun Abu Bakar dan Umar, dengan niat baik mereka, telah pula bersedia berperang demi takwil Al Quran yang benar itu. Masalahnya, pentakwilan Al Quran harus dilakukan oleh orang yang benar2 berilmu, memahami Al Quran 100% (menyentuh Al Quran) sehingga tidak terjadi distorsi dari petunjuk Allah untuk seluruh manusia ini. And Allah knows Imam Ali is the one among al-muthahharun (lihat Al-Waqiah: 79), sehingga melalui Rasul-Nya ditetapkanlah Ali AS sebagai otoritas pentakwil Al Quran sepeninggal Rasul SAW.
Dan sejarah menunjukkan, Abu Bakar dan Umar pun mengikuti banyak nasihat2 Imam Ali sebagai the supreme faqih of that era, sedemikian hingga as far as muslim community is concerned, pemerintahan mereka masih berada dalam kerangka keadilan.
Alhamdulillah, dengan ini saya tutup pembahasan mengenai ayat Kursi, sebuah ayat yang sangat istimewa***) yang mengandungi pemahaman tauhid pada level ultimate (tauhid al-wujud). Sedemikian istimewanya ia sehingga Imam Ali AS diriwayatkan tidak pernah melewatkan malam tanpa membaca ayat ini.
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa aali Muhammad,
waj'al tawassuli bihi syaafi'an yaumal qiyamati naafi'a.
Wassalam
AS
Notes:
*) Walaupun saya kurang sependapat jika dikatakan pemahaman Kursi sebagai ilmu atau kekuasaan Allah itu sebagai takwilnya para mufassirin, sebab para Imam Ahlulbait AhS telah menjelaskannya seperti itu di dalam hadits2 mereka, hanya saja Kubu Non-takwil tidak mengakui otoritas ahlulbait AhS. Jadi, kalaupun mau dikatakan takwil, ini adalah takwil-nya para Imam Ahlulbait AhS, and their takwil is the same as Muhammad SAW's takwil, i.e. the right takwil, karena merekalah (Rasul SAW dan ahlulbaitnya) para al-muthahharun yang memahami Al Quran secara sempurna. Mereka pulalah yang Al Quran sebut dengan "rasikhuna fil 'ilm", orang2 yang Allah karuniai pemahaman ilmu mendalam, yang meng-imani ayat2 mutasyabihat. Iman orang2 berilmu adalah iman berdasarkan pengetahuan hakiki, BUKAN berdasarkan taklid. Jadi, mereka dikaruniai Allah pemahaman yang benar dari ayat2 mutasyabihat.
**) Secara sederhana, takwil adalah "mengembalikan segala sesuatu kepada rujukannya" (rem. “ta'wil” dan “awal” mempunyai akar kata yang sama). Karena itu, dalam hal ayat2 Al Quran yang kurang dimengerti pada pandangan pertama (kebanyakan memang ayat2 mutasyabihat), cara mentakwilnya adalah dengan merujukkannya kepada ayat2 muhkamat yang berhubungan dengannya. Jadi, takwil SAMA SEKALI BUKAN gothak gathuk gatholoco seperti banyak disalahpahami sebagian orang selama ini :-).
***) Tentu saja, setiap ayat Al Quran adalah istimewa.
Salaam alaikum
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa aali Muhammad.
Setelah menegaskan konsep tauhid al-wujud, ayat Kursi memberikan pemahaman yang benar tentang konsep syafa'at dan tawassul. Dua hal ini saling terkait, sebab syafa'at sering diartikan sebagai kegunaan, sedangkan bertawassul artinya menggunakan perantara (wasilah) dalam mencapai tujuan. Perantara tersebut tentunya adalah yang memberi kegunaan itu tadi. "Man dzalladzi yasyfa'u 'indahu illa bi idznih"; Who is there can intercede in His presence except as He permitteth? (terjemahan Yusuf Ali), atau dalam terjemahan Melayu-nya adalah: Tiada sesiapa yang dapat memberi syafaat (pertolongan) di sisiNya melainkan dengan izinNya.
Jika kita amati kehidupan se-hari2, akan kita dapati bahwa: kita tidak bisa mencapai tujuan kita TANPA adanya pertolongan (syafa'at) dari perantara (wasilah). Contoh, si Fulan pengin minum teh nasgithel (panas, legi and kenthel). Meskipun si Fulan memasak air dan menyeduh tehnya sendirian, tanpa bantuan orang lain, toh sebenarnya dia telah bertawassul, memanfaatkan syafa'at dari banyak pihak. Coba check, siapa yang menanam tehnya, siapa yang memetik teh, siapa yang memproses daun teh sehingga siap seduh, siapa yang mempurifikasi air sehingga siap minum, siapa yang mengantar teh siap seduh itu ke pasar, siapa yang membuat ceret tempat si Fulan masak air, siapa yg menyediakan listriknya, dll yg kalau mau di-list bisa panjang banget.
Nah, ayat Kursi mengingatkan kita bahwa setiap kegunaan yang kita dapatkan melalui perantara2 mahluk itu, hakikatnya BUKAN karena kemampuan independent dari mereka. Semua sebenarnya kemampuan Allah belaka, laa haula wa laa quwwata illa billah. Mereka mendapatkan izin-Nya untuk memberi syafa'at, menjadi wasilah bagi tercapainya tujuan kita. Hal ini akan menghindarkan kita dari mempertuhankan mahluk (termasuk mempertuhankan diri sendiri), tapi di lain pihak juga mengajarkan kita untuk bersyukur ke hadirat Allah melalui rasa terimakasih kepada perantara2 itu.
Pada suatu saat, kemampuan atau kegunaan sesuatu yang sudah lazim dikenal orang bisa saja sirna atau berubah 180 derajat, karena Allah tidak mengizinkannya berkemampuan seperti lazimnya itu. Misal, api lazimnya adalah panas dan membakar. Tapi, tanpa izin Allah, api yang diharapkan Namrud menjadi wasilahnya dalam membakar Ibrahim AS, ternyata gagal membakar, bahkan berubah menjadi sejuk.
Pertanyaannya kemudian adalah, jika untuk mencapai tujuan takwini (mekanisme alam material) SELALU, alias TIDAK PERNAH TIDAK diperlukan wasilah, apakah untuk tujuan ukhrawi juga begitu? Kalau saja kita sadar bahwa mekanisme tawassul dan syafa'at secara takwini itu adalah mekanisme yang Allah ciptakan (i.e. sunnatullah), dan kita ingat bahwa kejadian2 alam material boleh menjadi ibrah (pelajaran) bagi ukhrawiyah kita, kemudian kita ingat pula bahwa tujuan-tujuan takwini sama sekali bukanlah tujuan utama kita, melainkan hanya subordinate belaka dari tujuan ultimate ukhrawi kita, tentu jawabnya adalah "YA". Bukankah kata Al Quran, sunnatullah itu tidak akan pernah berubah (see e.g. Al Isra: 77)? Maka, jika untuk tujuan2 yang less important saja Allah tetapkan mekanisme wasilah, tentu untuk tujuan utama pun demikian. Semua ini bukan karena kelemahan Allah, sebab sungguh Allah Maha Sempurna, tapi karena kelemahan mahluk dan untuk kebaikan semua mahluk itu sendiri.
Karena itu, al-Maidah: 35 mengatakan "O ye who believe! do your duty to Allah (ittaqullah), seek the means of approach unto Him (wabtaghuu ilaihil wasiilah), and strive with might and main in His cause: that ye may prosper". Taqwa adalah beramal saleh (dan menjauhi amal buruk) berdasarkan iman. Karena itu Yusuf Ali menterjemahkannya sebagai "do your duty to Allah". Tapi ternyata Allah pun memerintahkan kita untuk mencari perantara (wasilah) yang boleh membawa kita kepada-Nya, alias menyampaikan kita kepada tujuan ultimate kita, kembali kepada Allah dengan selamat.
Seperti halnya perintah2 lain di Al Quran, perintah ini pun bukan teka-teki ataupun ngetest :-). Ketika Quran menyuruh kita bertawassul, Quran pun memberi jawaban siapa2 saja pihak ultimate yang dengannya kita bertawassul. Demikianlah, maka ketika Quran mengajarkan bahwa hukum itu HANYA milik Allah, Quran pun mengajarkan "kalau kamu mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad SAW)". Artinya, hanya dengan wasilah hukumnya Muhammad (SAW)-lah kita benar2 melaksanakan hukum Allah. Di lain tempat, Quran pun mengatakan "taatilah Allah dan taatilah Rasul dan Ulil Amri minkum". Artinya, hanya melalui (alias dengan wasilah) ketaatan kepada Rasul SAW dan Ulil Amri AhS (alaihim assalam)-lah kita benar2 taat kepada Allah. Seseorang yang mengklaim muslim dan mengklaim taat kepada Allah (mungkin karena dia sudah merasa paham SEMUA hukum2 Allah), tapi kalau dia memerangi Rasul SAW dan/atau Ulil Amri AhS, maka hakikatnya dia sama sekali TIDAK TAAT kepada Allah.
Itulah sebabnya, kaum Khawarij yang ahli ibadah (sedemikian hingga Abdullah bin Abbas RA pun terkesima melihat tekunnya ibadah mereka) pun Rasul SAW katakan sebagai telah KELUAR dari agama ini seperti melesatnya anak panah dari busurnya. The then gembongnya Khawarij, di jaman Rasul SAW masih hidup, sudah nggak mengakui Muhammad SAW sebagai wasilah dalam hal2 ukhrawi. Dia menganggap peran Muhammad SAW yang menyampaikan ayat2 Allah (Quran) itu hanyalah seperti tukang pos yg menyampaikan surat2 dari pengirimnya. Dia merasa lebih paham Quran dari Muhammad SAW, seperti halnya orang yang dituju oleh si pengirim surat lebih paham isi surat itu dibanding si tukang pos!!! Itulah Khawarij, yang sepeninggal Rasul SAW malah memerangi Ulil Amri zaman itu, yaitu Imam Ali AS.
Di tempat yang lain lagi, Al Quran pun mengatakan "wahai orang2 yang beriman, bershalawatlah kepadanya (Muhammad SAW) dan beri salamlah dengan sebenar salam". Bahkan, ayat ini didahului dengan "innallaha wa malaikatahu yushalluna 'alan nabiy". Jadi Allah dan para malaikatpun bershalawat ke atas Nabi SAW. Shalawat Allah artinya kecintaan Allah kepada Muhammad SAW, dan shalawat para malaikat (dan mahluk lainnya) artinya ketundukan mereka kepada Muhammad SAW.
Ketika para sahabat bertanya cara bershalawat, Nabi SAW menjawab "Allahumma shalli 'ala Muhammad wa aali Muhammad; dan jangan kalian bersalawat terpotong (hanya Allahumma shalli 'ala Muhammad saja)". Kita pun tahu bahwa doa kita NGGAK akan sampai kepada Allah (alias dijamin nggak akan makbul) sebelum kita bershalawat lengkap. Shalat kita pun nggak akan diterima, unless kita bershalawat di doa tasyahud/tahiyyat. Ini, tak lain tak bukan adalah sejalan belaka dengan ayat "taatilah Rasul dan Ulil Amri minkum". Muhammad wa aali Muhammad, tak lain tak bukan, adalah Rasul wa ulil amri minkum yang ketaatan kepada mereka Allah wajibkan bagi kita.
Jangan lupa, Quran pun memberikan argumen rasional mengenai why them? Al Waqiah: 79 menyatakan "laa yamassuhu ilal muthahharun"; tidak menyentuhnya (Quran) kecuali al-muthahharun (orang2 yang disucikan). Jadi, HANYA al muthahharun lah yang Allah jamin sebagai "menyentuh" (memahami secara sempurna) Al Quran. Bukankah petunjuk2 di Al Quran-lah yang kita butuhkan untuk mencapai tujuan akhir kita? Nah, maka jelas mereka yang memahami Al Quran dengan level 100% sempurna lebih patut kita taati daripada yang pemahamannya sepotong-sepotong, bukan?
Demikianlah, merekalah tempat kita bertawassul, dan dari merekalah kita harapkan syafa'at di hari akhir nanti. Tentu saja, "man dzalladzi yasyfa'u indahu illa bi idznih", yang juga ditegaskan di ayat2 lain, misal QS Yunus: 3 dan As-Sajdah: 4. Kegunaan para wasilah ultimate itu (dan juga para wasail yang nggak ultimate, seperti misalnya para syuhada, aulia, dll.) semuanya adalah dari Allah belaka.
Ya'lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum, wa laa yuhithuuna bi syai'in min 'ilmihi illa bimaa syaa; He knows what is before THEM and what is behind THEM, and THEY cannot comprehend anything out of His knowledge except what He pleases. Lanjutan ayat Kursi ini sekali lagi menegaskan wajib al-wujud-Nya Allah dan dependent-nya mahluk kepada-Nya. Mereka yang dimaksud di ayat ini adalah para pemberi syafa'at itu. Setelah ditegaskan bahwa syafa'at hanya terjadi melalui izin Allah, ditegaskan pula bahwa Allah mengetahui apa2 yang di depan maupun di belakang mereka, dan segala ilmu yang ada pada mereka hakikatnya adalah dari Allah belaka.
Prinsip inilah yang membedakan tawassulnya mu'minin dengan tawassulnya jahiliyah. Orang2 jahiliyah bertawassul melalui berhala2 berupa patung2 batu, ataupun ruh2 orang2 saleh yg sudah meninggal, yang mereka percayai mempunyai independent power; suatu kepercayaan yang, tentu saja, syirik. Di lain pihak, Nabi Muhammad SAW diriwayatkan meminta umatnya agar berdoa mohon kepada Allah agar mengkaruniai beliau SAW kedudukan pemberi syafa'at di hari akhir nanti. Ini sungguh menunjukkan keikhlasan dari seorang yang paling berhak mengucap "ana al-Haq", suatu kesadaran bahwa we are nothing dan selalu dependent to Allah and Allah only.
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa aali Muhammad,
waj'al tawassuli bihi syaafi'an yaumal qiyamati naafi'a.
Wassalam
Salaam alaikum
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa aali Muhammad
Melanjutkan bahasan terdahulu, kita sadari bahwa ayat Kursi membawa pemahaman Tauhid al-Wujud, bahwa Allah adalah Satu2nya Wujud Sebenar, sedangkan semua selain-Nya adalah wujud relatif belaka. Statement bahwa Allah itu tiada Tuhan selain Dia yang al-Hayyu al-Qayyum, diperkuat dengan hujjah bahwa Dia itu tidak tersentuh kantuk, apalagi tidur, dan diperkuat lagi dengan "lahu maa fissamaawaati wa maa fil ardh".
Tidak ada mahluk dan tidak ada power yg independent dari-Nya. Ketika Allah menciptakan hukum2 alam yg berlaku bagi mahluk2-Nya, Dia tidak lantas beristirahat dan membiarkan sunnatullah bekerja dengan sendirinya. "Lahu maa fissamaawaati wa maa fil ardh" dipertegas oleh "laa haula wa laa quwwata illa billah" dan "yusabbihu lahu maa fissamaawaati wal ardh". Berbeda dengan pandangan sebagian pemeluk Nasrani ataupun Yahudi yg menganggap Allah itu ada istirahatnya, Tauhid al-Wujud mengatakan bahwa Allah itu ngantuk aja nggak, apalagi tidur, dan semua yg di langit dan bumi ada dalam genggaman-Nya. Artinya, ketika hujan turun misalnya, power sang awan dalam mengubah uap menjadi air hujan bukanlah independent power, melainkan hakikatnya adalah power Allah jua. Demikian pula, gravity power yg menjatuhkan titik2 air dari langit ke bumi, bukan pula suatu independent power. Hakikatnya, Allah jualah yang bekerja menjatuhkan titik2 air hujan itu ke bumi.
Later on in next series, kita akan bahas bagaimana Allah bekerja, yang di alam ciptaan ini terwujud melalui mahluk2 dan power2*), yg semua mahluk dan power itu originated from and dependent to Him, melalui apa yg selama ini ente pade kenal -whether ente benar paham atau salah paham, atau nggak mau paham :)- dengan konsep TAWASSUL dan SYAFA'AT, insya Allah.
Sedemikian pentingnya pemahaman dependensi kita sebagai mahluk dan independensi absolut-Nya Allah ini, sehingga dalam doa2 ajaran ahlulbait AhS, kita dapati misalnya ungkapan seperti "wa an tu'iinanii 'alaa thaa'atika" (dan bantulah aku [ya Allah] untuk mentaati-Mu), "wa tashuddanii 'an ma'aashiika maa ahyaitanii" (dan palingkan daku [ya Allah] dari maksiat kepada-Mu selama Kau hidupkan aku). Semuanya menunjukkan kesadaran tauhid al-wujud, bahwa we are NOTHING, we have no power whatsoever, sehingga untuk mentaati-Nya dan beribadah kepada-Nya dan menjauhi maksiat kepada-Nya pun kita tak akan bisa lakukan TANPA anugerah power dari Sang Wajib al-Wujud.
Nah, kali ini kita akan lihat bahwa angan-angan**) berupa Tajsim dan Tasybih (T/T) boleh merusak tauhid kita. Tajsim adalah menisbatkan jisim/badan material kepada Allah, sedangkan tasybih adalah menyerupakan Allah dengan mahluk, alias menganggap Allah itu comparable to something else. Dalam versinya yang paling kasar, T/T adalah menganggap suatu mahluk sebagai Tuhan Sang Pencipta. Distorsi ini banyak menghinggapi agama2 terdahulu. Kita tahu sebagian pemeluk Nasrani menganggap Isa AS sebagai Tuhan yg menampakkan Diri-Nya di bumi. Kita juga tahu sebagian orang2 Yahudi pernah (mungkin sekarang juga masih) meyakini Uzair AS sebagai jelmaan Tuhan. Kita juga mafhum, orang2 Budha percaya Sidharta sebagai Tuhan yg turun ke dunia, sementara orang2 Hindu menganggap Tuhan itu punya jisim yg berupa Brahma, Syiwa dan Wishnu.
Dalam bentuknya yang paling halus, T/T dicerminkan oleh pandangan2 berikut:
- menganggap Allah itu punya tangan dan kaki, meskipun gimana bentuknya hanya Allah yang tahu.
- menganggap Allah benar2 duduk di atas arsy, meskipun gimana Dia duduk adalah berbeda dg kita, dan hanya Allah yg tahu.
- menganggap Allah itu literally turun (dari arsy) ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir untuk mendengarkan doa2 para hamba-Nya.
- dalam shalat, seseorang membayangkan Allah sebagai berupa sesuatu (bisa cahaya, atau something very much gigantic, atau lainnya), meskipun orang itu tidak pernah dan tidak akan memberitahukan pembayangannya itu kepada orang2 lain.
- menganggap Allah itu literally physically ber-cakap2 langsung dengan Musa AS, dan bahwa Allah itu benar2 literally physically hendak menampakkan diri-Nya kepada Musa AS.
- menganggap jarak yang "sedekat dua busur panah atau lebih dekat lagi" antara Muhammad SAW dan Allah dalam peristiwa mi'raj itu adalah literally seperti itu.
- menganggap bahwa Allah itu bisa kita lihat dengan mata fisikal kita, meskipun ini hanya akan terjadi di Surga nanti.
- dll, yg sadar atau tidak bisa merasuki kita.
Lalu, apa salahnya T/T?
T/T kasar dengan mudah akan ditolak oleh setiap muslim. Mana mungkin, misalnya, Yesus AS atau Uzair AS atau Sidharta Gautama yg terdiri dari daging dan darah serta perlu makan minum seperti manusia2 lainnya itu, adalah Tuhan Sang Pencipta. Logika sederhana akan mengatakan bahwa jika "tuhan" itu adalah sesuatu yg comparable dengan kita, sementara kita sadar bahwa kita ini diciptakan oleh Tuhan, maka jangan2 "tuhan" itu juga diciptakan oleh Tuhan, bukan?
Alur pemikiran tauhid al-wujud yg telah kita bahas pada seri 1 yang lalu adalah argumen akal yang tak terbantahkan untuk menolak T/T. Sementara itu, Al Quran pun menegaskan bahwa Allah itu "laisa kamitslihi syai'un" (Asy Syuura: 11), tidak ada sesuatu keserupaanpun yang menyerupai-Nya, maka Allah is incomparable to anything. Hal ini dipertegas ayat Quran lainnya (an-An'aam), "laa yudrikuhul abshaar", tidak ada pandangan mata yang bisa melihat-Nya. Maka, ini pun menolak T/T halus, sebab hakikatnya T/T itu, halus ataupun kasar, adalah menganggap Allah itu punya badan/jisim dan serupa dengan mahluk-Nya. Semua orang yang berpahaman T/T, meskipun yang paling halus sekalipun, sebenarnya sama saja dengan mengulangi kesalahan umat2 terdahulu yang menganggap mahluk sebagai Tuhan Sang Pencipta. Maa lahum bihi min 'ilmiw wa laa ila abaaihim, kaburat kalimatan takhruju min afwahihim, iyyakuuluuna illa kadziba (al-Kahfi).
Keserupaan kesalahan ini adalah berupa: menganggap Dia bisa dilihat oleh mata fisikal, yang berarti Dia punya fisik meskipun gimana bentuknya hanya Dia yg tahu, dan Dia terbatas oleh penglihatan mata fisikal; dan Dia terikat ruang dan waktu ketika Dia perlu DUDUK di atas 'arsy dan perlu TURUN dari 'arsy ke langit dunia pada waktu2 tertentu (malam nisfu Sya'ban ataupun sepertiga malam terakhir).
Subhaanallahi 'ammaa yushrikun, kata Quran (al-Hasyr). Semoga, dengan menyadari kesalahan T/T, yang sebenarnya sudah sedemikian banyaknya diperingatkan oleh Al Quran maupun akal, kita semua terhindar dari jebakan2 non-tauhid.
Wallahu a'lam
Wassalam
Notes:
*) semata-mata karena kelemahan dan untuk kebaikan mahluk2 itu sendiri, bukan karena kelemahan dan untuk kebaikan Allah, sebab Allah itu Sempurna dan Kaya, Tidak Memerlukan sesuatu.
**) sengaja saya sebut angan2, sebab pemahaman T/T adalah tidak berdasarkan ilmu.
Salaam alaikum
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa aali Muhammad.
Al Hallaj dan Syeh Siti Jenar adalah dua orang sufi yang terkenal dengan ucapan "ana al-Haq"-nya. Al Hallaj kemudian dijatuhi hukuman mati oleh kerajaan waktu itu, sedangkan Syeh Siti Jenar mematikan dirinya dg sukarela. Hal ini despite pengakuan semua sufi2 yg sejaman dg keduanya (misal Juneid al Baghdadi, dan wali sanga) bahwa tauhid Al Hallaj maupun Siti Jenar adalah benar belaka (misalnya, di buku2 ttg Syeh Siti Jenar banyak dikutip dialog Sunan Geseng dg Syeh Siti Jenar yg tercatat di Babad Tanah Jawa, yg menyepakati mengenai wahdah al-wujud). Tapi begitulah, Al Hallaj dihukum mati, literally as confirmed by ahli2 sejarah, sedangkan Syeh Siti Jenar wallahu a'lam. (bisa jadi beliau "dihukum mati" not literally).
Al Haq adalah salah satu sifat Allah, salah satu dari asma al Husna. Tapi, klaim "ana al-Haq" dari Al Hallaj tidaklah sama dengan klaim "saya adalah Allah". Para alim yg sejaman dengan Al Hallaj mengakui kemurnian tauhid beliau. Jadi, Al Hallaj dan Syeh Siti Jenar paham betul bahwa Allah itu immaterial, tak terikat ruang-waktu, dan laisa kamitslihi syai' (QS Asy-Syura).
Semua muslimin mafhum belaka bahwa manusia diciptakan Allah untuk menjalankan tugas menjadi khalifah Allah di muka bumi. Khalifatullah berarti representasi Allah, representasi al-Haq. Maka, bagi para manusia sempurna, yang telah berhasil me-nihil-kan hawa nafsu jahal, mencapai tingkat ikhlas tertinggi dan memaksimalkan akal, akan terpantullah cahaya Allah dari mereka, berupa sifat2 kebaikan, kebenaran dan keadilan sebagai wujud berjalannya fungsi khalifatullah itu. Bagi mereka, "ana al-Haq" adalah ucapan yang valid belaka, seperti validnya ucapan "saya adalah utusan Allah" dari seorang Isa AS dan Muhammad SAW.
Mari kita mulai dengan membahas konsep ultimate dari tauhid, yaitu tauhid al-wujud. Konsep ini sedemikian tingginya sehingga para nabi AhS sebelum Muhammad SAW tidak mengajarkannya kepada umat mereka (kecuali kepada beberapa orang dekat tertentu saja, tentunya). Kenapa? Karena budaya dan tingkat pikir umat awal zaman, in general, belumlah sampai untuk bisa memahami tauhid al-wujud. Para nabi AhS sebelum Muhammad SAW itu "hanya" mengajarkan tauhid al-ilah (uluhiyah), tauhid al-rabb (rububiyah), dan tauhid al-mulk (mulkiyah). Jika tauhid al-wujud dipaksakan untuk diajarkan kepada public waktu itu, kiranya justru akan berakibat tidak baik, wallahu a'lam. Isa AS, misalnya, pernah mengatakan "There is still much that I could say to you, but the burden would be too great for you now. However, when he comes who is the spirit of truth (RUH AL-HAQ, maksudnya adalah Muhammad SAW), he will guide you into ALL the truth; for he will not speak on his own authority, but will tell only what he hears [from God] (persis seperti QS an-Najm: wamaa yanthiqu 'anil hawa, inhuwa illa wahyun yuha); and he will make known to you the things that are coming" (John 16: 12 and 13).
Ayat Kursi mengandungi makna tauhid hingga level tertinggi, tauhid al-wujud. Itulah sebabnya ayat ini adalah ayat paling agung yang Allah turunkan kepada Muhammad SAW dan HANYA kepada Muhammad SAW saja, untuk diajarkan kepada umatnya dan HANYA umatnya saja.
Wujud adalah eksistensi. Dia bisa material seperti kerikil, pohon, kucing, suara, aliran listrik, tanah, manusia (basyar), api, jin, cahaya, malaikat, dll., dan bisa pula immaterial seperti kenangan, pandangan/opini/view, ilmu, dan ruh. Nah, para ulama membagi jenis wujud ini menjadi 3: (1) Mumkin al-wujud, (2) Wajib al-wujud, dan (3) Mumtani al-wujud.
Semua ciptaan Allah dikategorikan mumkin al-wujud, yaitu eksistensi relatif. Maksudnya, eksistensinya HANYA MUNGKIN terjadi KARENA adanya eksistensi lainnya. Kita semua sudah mafhum bahwa si Kitty kucing tetangga sebelah itu, misalnya, nggak mungkin bisa mewujud dg sendirinya tanpa adanya rangkaian sebab-akibat yg mendahuluinya.
Demikianlah, boleh kita ambil satu mahluk, anything, boleh yg sederhana seperti sebiji kerikil ataupun sebutir kurma, sampai yg kompleks seperti seorang bang Perdinan atau cak Joni, lalu kita analisis rangkaian sebab-akibat yg membawanya maujud di dunia ini. At the end of the day, kita akan sadar akan dua hal. Satu, rangkaian sebab-akibat itu HARUS berhenti pada THE ONE AND ONLY FIRST THING. Rangkaian yg tak terhingga jumlah rantainya dan kompleks keterhubungannya adalah sangat mungkin, mengingat keterbatasan pikiran kita dalam mengenali dan menghitung, BUT, rangkaian yg unlimited adalah tidak mungkin, sebab ini menjadi never ending. Padahal kita tahu bahwa eksistensi alam semesta ini tentu ada awalnya, sebab kita lihat terjadinya proses dari komponen2 alam ini, seperti proses tumbuh berkembang kemudian layunya pohon2an, maupun tumbuh kembang matinya hewan dan manusia. Nah, jika komponen2nya berproses, tentu alam sebagai suatu sistem, as a whole, pun berproses, artinya ada awal alam semesta dan ada akhirnya pula.
Kesadaran kedua, keberlanjutan eksistensi kerikil, atau kurma, atau seorang manusia itu tentu membutuhkan pula penopang, yaitu wujud2 lainnya yg melalui rangkaian sebab-akibat tertentu membuat kerikil, atau kurma, atau bang Perdinan, atau cak Joni tetap eksis. Bang Perdinan dan cak Joni, misalnya, tentu perlu makan tiga kali sehari dan sesekali diundang gus Dir atau mas Seno ratiban dan makan bersama, dan sebulan sekali menghadiri khataman untuk makan siang bersama, untuk mempertahankan eksitensinya, bukan?
Semua ini menunjukkan bahwa creatures itu tidaklah al-hayyu al-qayyum. Semua ciptaan membutuhkan keberadaan Sang Wajib al-Wujud, Sang Eksistensi Absolut, Sang Wujud Independent. "Allahu laa ilaha illa huwa Al-Hayyu Al-Qayyum", demikian kata pembukaan ayat Kursi.
Maka, Allah itu eksistensinya adalah langgeng, tiada awal tiada akhir, dan TIDAK tergantung kepada wujud2 lainnya, dan TIDAK dikarenakan suatu rangkaian sebab-akibat apapun. Konsekuensinya, Allah itu menjadi tempat bergantung dan sumber wujud dari wujud2 lainnya. Demikian secara singkat, hubungan antara mumkin al-wujud dan wajib al-wujud.
Jenis wujud ketiga adalah mumtani al-wujud, yaitu wujud yang nggak mungkin ada. Contohnya adalah adanya Wajib al-wujud SELAIN Allah. Tidak mungkin ada 2 atau lebih wajib al-wujud. Logika salah mengenai adanya wujud independent lain selain Allah ini, bukan tidak mungkin dianut oleh sebagian orang, sebab boss-nya penganut paham ini tak lain tak bukan adalah Iblis sendiri, dan dia rajin me-niup2kannya kepada manusia dan jin.
Ada suatu pertanyaan yg cukup populer dari penganut paham ini: "Kalau benar Tuhan itu Maha Perkasa dan Maha Pencipta, bisakah Dia menciptakan Sesuatu yang Sama Perkasanya dengan Dia?" Apapun jawaban dari pertanyaan ini (ya ataupun tidak), akan menafikan The One and Only Wajib al-wujudnya Allah.
Pembahasan lebih lanjut mengenai hubungan Wajib al-Wujud dan mumkin al-wujud akan membawa kita kepada konsep syafa'at dan tawassul. Man dzalladzi yasyfa'u 'indahu illa bi idznih, ya'lamu maa baina aidiihim wa maa khalfahum.
To be continued, insya Allah.
Wassalam
| |